iklan caleg
Opini

Napas Terakhir Sang Penenun Perubahan : Mengunci Motif Perjuangan di Hari Kartini

Avatar photo
×

Napas Terakhir Sang Penenun Perubahan : Mengunci Motif Perjuangan di Hari Kartini

Sebarkan artikel ini
Napas Terakhir Sang Penenun Perubahan : Mengunci Motif Perjuangan di Hari Kartini
Husnulyati // Sumber : Galan Rezki Waskita

Oleh : Galan Rezki Waskita

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Tana Samawa hari ini diselimuti duka mendalam atas berpulangnya Husnulyati, seorang tokoh pergerakan yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Beliau mengembuskan napas terakhirnya pada 20 April 2026, dan tepat pada hari ini, 21 April, jasadnya dihantarkan ke peristirahatan terakhir. Kepergiannya di tanggal tersebut seolah menjadi penanda simbolis bahwa ia adalah sosok Kartini modern yang berjuang hingga garis finis.

Saat prosesi pemakaman berlangsung, langit Sumbawa pun tak mampu menyembunyikan kesedihannya; awan mendung berarak rendah dengan wajah muram, seolah sengaja membentangkan payung abu-abu raksasa untuk melindungi sang pejuang dari terik matahari terakhirnya.

Sebagai aktivis lingkungan dan agraria, jejak langkah Husnulyati terpatri kuat dalam Lembaga Olah Hidup (LOH) dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Tanah yang hari ini memeluknya adalah tanah yang sama yang ia bela mati-matian dari kerusakan. Pohon-pohon dan perbukitan di Moyo Hilir seakan merunduk khidmat, memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi penyambung lidah bagi alam yang seringkali tak terdengar suaranya. Bagi Husnulyati, menjaga kelestarian bumi adalah tentang kedaulatan martabat manusia di atas tanah kelahirannya sendiri.

Keberpihakannya pada kelompok marjinal semakin nyata melalui perannya di Solidaritas Perempuan dan SMERU. Di sana, beliau menjadi garda terdepan dalam menyuarakan keadilan bagi perempuan dan isu-isu sosial yang kompleks. Kemampuannya memadukan data riset dengan realitas lapangan menjadikannya narasumber yang sangat disegani. Beliau bukan hanya mampu memetakan masalah, tetapi selalu hadir sebagai teman diskusi yang menawarkan solusi konkret, layaknya lentera yang tetap berpijar meski badai tantangan datang menerjang dari berbagai penjuru.

Di tingkat akar rumput, pengabdiannya menjelma melalui peran sebagai Pendamping Lokal Desa di bawah Kemendes. Hingga ajal menjemput pada 20 April kemarin, fokusnya tidak pernah bergeser dari kemajuan desa-desa di Kecamatan Moyo Hilir. Bahkan saat raga mulai melemah digerogoti sakit, semangatnya tetap berdiri tegak; unggahan-unggahan terakhirnya tentang program desa menjadi saksi bahwa jiwanya menolak untuk menyerah pada rasa sakit. Ia adalah lilin yang memilih untuk terus membakar diri demi menerangi jalan bagi masyarakat desa yang ia cintai.

Sisi visioner Husnulyati juga tercermin pada jemari lembutnya yang merawat tenun tradisional Kre’ Alang. Beliau adalah penjaga ruh dari setiap motif tenun agar tidak layu ditelan zaman. Baginya, sehelai tenun adalah napas sejarah dan martabat perempuan Samawa yang harus dijaga kemilaunya. Saat ia berpulang, benang-benang emas pada kain tenun itu seolah ikut kehilangan cahayanya sejenak, berkabung atas hilangnya sang maestro yang selama ini menceritakan kisah mereka kepada dunia dengan penuh rasa bangga dan cinta.

Kini, tepat di Hari Kartini, sang pejuang telah tuntas menunaikan janjinya. Di bawah naungan mendung yang khusyuk, ia beristirahat di pelukan bumi yang sangat ia cintai. Meski sosok solutif itu kini telah tiada, namun semangatnya tetap hidup, berbisik melalui angin yang berembus di lahan-lahan agraria dan bergetar dalam setiap tarikan benang para penenun di Sumbawa. Selamat jalan, Husnulyati; semoga ketulusanmu menjadi amal jariyah yang tak putus, mengharumkan namamu di bumi dan meluaskan jalanmu di langit. (KS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *