Oleh : Lola Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa
Kabarsumbawa.com – Bayangkan belanja kebutuhan bulanan, lalu di akhir tahun Anda dapat bagi hasil. Tanpa riba, tanpa eksploitasi. Itulah janji koperasi.
Tapi di era pinjaman online instan dan startup unicorn, banyak yang bertanya: apakah koperasi masih relevan?
Data BPS 2023 memang jujur. Kontribusi koperasi ke PDB masih kecil dibanding korporasi besar. Tapi jangan salah. Koperasi tetap menjadi nafas ekonomi warga kecil, terutama UMKM di Sumbawa, Lombok, hingga pelosok NTT.
Mereka tidak butuh valuasi miliaran. Mereka butuh keadilan.
Koperasi Bukan Sekadar Warisan, Tapi Senjata Rakyat
Di balik euforia ekonomi digital, ada satu kata kunci yang sering dilupakan: inklusivitas. Startup memang cepat. Tapi koperasi merata.
Menurut Hendar (2019), koperasi terbukti menekan kesenjangan ekonomi. Kenapa? Karena keuntungan tidak mengalir ke segelintir pemodal. Sisa Hasil Usaha (SHU) dibagi berdasarkan partisipasi, bukan besarnya saham. Ini beda fundamental dengan PT yang berorientasi dividen untuk pemilik modal.
Tapi masalahnya, banyak koperasi saat ini masih dikelola dengan cara lama. Buku tulis, rapat setahun sekali, minim digitalisasi. Akibatnya? Tertabrak zaman.
Startup Cepat, Koperasi Lambat. Padahal Konsepnya Sama
Menariknya, prinsip sharing economy yang dipopulerkan Gojek, Grab, atau Airbnb sejatinya mirip dengan koperasi: memanfaatkan aset bersama untuk keuntungan bersama.
Hanya saja, startup gesit memakai teknologi. Koperasi? Masih sibuk mengurus administrasi dan rapat anggota.
Jika dibiarkan, koperasi bukan hanya ketinggalan, tapi bisa benar-benar mati. Padahal potensinya luar biasa, terutama di daerah dengan ikatan sosial kuat seperti NTB. Di Sumbawa misalnya, banyak petani dan nelayan yang lebih percaya koperasi daripada aplikasi pinjol berbunga tinggi.
Pemerintah Jangan Cuma Bikin Koperasi Baru
Selama ini, kebijakan pengembangan koperasi kerap terjebak pada target kuantitas. Banyak koperasi dibentuk, tapi sedikit yang hidup.
Suryono (2021) menegaskan bahwa prioritas seharusnya bukan pada jumlah, tapi pada inovasi. Artinya:
1. Digitalisasi koperasi (aplikasi simpan pinjam, pemasaran online produk anggota).
2. Pelatihan manajemen modern (keuangan, pemasaran digital, customer service).
3. Pendampingan berkelanjutan dari dinas koperasi dan perguruan tinggi setempat.
Tanpa tiga hal ini, koperasi hanya akan jadi koperasi papan nama. Hidup secara administratif, mati secara ekonomi.
Solusi Nyata: Koperasi Go Digital, Ekonomi Rakyat Go Kuat
Tidak perlu muluk-muluk. Di Jawa dan Bali, sudah banyak koperasi yang beralih ke sistem digital. Anggota bisa menabung, meminjam, bahkan membeli sembako lewat aplikasi. Hasilnya? Lebih transparan, lebih cepat, dan lebih dipercaya generasi muda.
Langkah ini bisa ditiru di Sumbawa, Dompu, atau Bima. Dengan dukungan internet yang makin merata, koperasi desa bisa naik kelas.
Bayangkan jika hasil panen petani jagung di Pekat langsung dipasarkan melalui platform koperasi digital. Tidak perlu tengkulak. Harga lebih baik. Keuntungan kembali ke anggota.
Koperasi bukan sistem ekonomi usang. Ia adalah fondasi ekonomi kerakyatan yang lagi butuh upgrade. Bukan diganti, tapi diperkuat.
Dengan digitalisasi, manajemen profesional, dan dukungan nyata pemerintah, koperasi justru bisa menjadi jawaban atas ketimpangan ekonomi digital saat ini.
Jadi, apakah koperasi masih relevan? Ya, tapi hanya jika berani berubah. Saatnya kita tidak hanya bernostalgia dengan koperasi, tapi menghidupkannya kembali dengan cara zaman sekarang.
Pemerintah, pengelola, dan kita semua punya peran. Karena ekonomi yang adil tidak tumbuh dari aplikasi, tapi dari kebersamaan.








