Opini  

HUBUNGAN PERILAKU OVERPROTEKTIVE ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN DIRI ANAK REMAJA

HUBUNGAN PERILAKU OVERPROTEKTIVE ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN DIRI ANAK REMAJA
Penulis

Sunbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Di dalam keluarga anak merupakan anggota terpenting, keberadaan anak diantara keluarga memang sangat dinanti-nantikan. Saat anak hadir diantara keluarga orang tua pasti mengharapkan anaknya bisa menjadi orang yang berkepribadian baik, maka dari itu orang tua memiliki caranya sendiri dalam mendidik anak. Ada beberapa tipe orang tua dalam mendidik anaknya. Yang pertama, ada orang tua yang bertabiat memberikan keleluasan kepada anak dengan tujuan agar anak bisa mengembangkan kemampuan dirinya. Ada juga orang tua yang memberi keleluasan kepada anak tapi tetap memberikan pengawasan, dan ada juga orang tua yang bersikap terlalu melindungi anak secara berlebihan dengan memberikan perlindungan yang begitu amat ketat sampai anak tidak bisa berleluasa dalam bergaul atau mengambil keputusannya sendiri, sehingga anak hanya bisa bergantung dan bersandar pada orang tuanya, Tindakan orang tua seperti ini disebut dengan overprotective (terlalu melindungi). Dengan alasan supaya anak tidak terpengaruh oleh pergaulan bebas dan terjerumus kenakalan remaja sebab anak belum bisa berfikir secara benar (logis) maka harus adanya tempat perlindungan yang ekstra. Lalu pertanyaannya apakah dengan perilaku overprotective orang tua terhadap anaknya bisa mempengaruhi kemadirian seorang anak?

Awal mula seorang anak berinteraksi yakni dengan orang tua, sehingga tingkah laku yang diberikan orang tua terhadap anak merupakan cerminan bagi perkembangan anak, baik dari segi perkembangan jasmani maupun rohaninya. Perilaku orang tua yang overprotective yaitu dimana orang tua yang terlalu berlebihan melindungi dan mengatur anaknya dari berbagai macam masalah yang dihadapi anak samapai pada pergaulan bahkan tingkah laku anak dalam sehari-hari dan selalu menolongnya dari berbagai kesulitan, sehingga anak menjadi tidak mampu mandiri, tidak pede dengan kemampuannya sendiri, merasa ruang lingkupnya terbatas dan tidak dapat bertanggung jawab dengan keputusannya sehingga mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Sekarang ini banyak sekali ditemukan orang tua yang memberikan sikap kemanjaan pada anaknya seperti menuruti setiap keinginan anaknya. Tapi tidak memberikan tanggung jawab kepada anaknya, maka seorang anak yang menerima sikap yang berlebihan dan serba gampang akan memperoleh kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan keadaan diluar rumah. Seharusnya orang tua sebagai madrasah pertama dalam pembentukan kepribadian dalam kehidupan anak mampu memberikan contoh implementasi kasih sayang yang sewajarnya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh para ahli dalam bukunya Agoes Dariyo, bahwa “orang tua mempunyai peran besar bagi pembentukan dan perkembangan moral seorang anak. Pendidikan yang diterima sejak masa anak-anak akan mempengaruhi pola pikir dan perilaku dalam diri anak remaja”.

Baca juga:  Fungsi dan Peran Guru di Tengah Pandemi Covid dengan belajar Daring

Jadi, pola asuh overprotective adalah Pendidikan berdasarkan kasih sayang yang berlebihan yang dapat menimbulkan akibat-akibat yang buruk seperti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah (kehilangan keleluasan untuk hidup mandiri), hidup dalam ketergantungan orang tuanya bahkan ketergantungan pada orang lain, kurangnya rasa percaya diri (self confidence) dan mudah kecewa. karena kasih sayang dan cinta yang dikasih orang tua terhadap anak remajanya terlalu besar dan berlebihan (overprotective) sehingga beralih menjadi sikap pemanjaan. Maka dari itu, sikap memanjakan yang terlalu berlebihan juga akan memberikan hasil yang tidak memuaskan.

Sedangkan penyesuaian diri dapat diartikan sebagai proses keseimbangan mental, tingkah laku, pemikiran, serta perasaan, dimana seorang anak berusaha menyeimbangkan diri pribadinya dengan lingkunga sosialnya. Penyesuaian diri itu sendiri dipengaruhi oleh dua faktor terbesar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi bagaimana anak remaja melihat dirinya sendiri, baik dari sudut pandang fisik, kejiwaan sosial, kebutuhan, kematangan intelektual, emosional, mental, maupun motivasi untuk membangun konsep tentang tujuan tertentu. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor keluarga yang terpenting adalah pola asuh orang tua, faktor kondisi sekolah. Kondisi sekolah yang baik akan mentransferkan aura positif yang baik kepada remaja untuk dapat melakukan penyesuaian diri secara sinkron. Faktor teman sebaya. dan faktor prasangka sosial adanya kecendrungan Sebagian masyarakat yang berprasangka terhadap para remaja, misalnya memberi sebutan remaja nakal, susah diatur, suka menentang orang tua dan lain-lain.

Baca juga:  Pentingnya Menanamkan Karakter Positif Pada Anak Sejak dini

Sebagai generasi penerus yang akan menjadi tunjangan, masalah penyesuaian diri remaja merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian, karena penyesuaian diri merupakan salah satu pintu kesuksesan seorang individu baik disekolah maupun dimasyarakat. Seorang individu diharuskan menyesuaikan diri terutama pada masa remaja, karena pada masa inilah individu mulai berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Dan ingat satu hal, kita yang mengarahkan diri kita sendiri bukan kita yang malah terarah.

Atrikel di atas ditulis oleh Preti Ifrigil Firginia dan Yusron Amin mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram, fakultas Agama Islam, prodi PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah).

Jika ada hal yang ingin ditanyakan berkaitan dengan tulisan di atas bisa menghubungi penulis melalui email berikut ini : pretiifrigilfirginiafirginia@gmail.com / yusronamin310@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.