Oleh: (Heri Kusnayadi, MP: Dosen Universitas Samawa)
Kabarsumbawa.com – Rencana proyek tambang emas dan tembaga di Blok Elang, Kecamatan Ropang, dengan perkiraan investasi mencapai Rp 8 triliun, membuka peluang besar bagi peningkatan ekonomi Kabupaten Sumbawa ke depan. Saat ini, proses penyusunan dokumen AMDAL tengah berjalan sebagai instrumen penting untuk menyelaraskan pembangunan industri dengan keberlanjutan lingkungan hidup.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P, secara bijak menegaskan prinsip kemitraan ini: investasi besar wajib memberikan dampak nyata pada kesejahteraan rakyat dan berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat lokal. Dalam konteks perencanaan wilayah jangka panjang, ada alam penting yang harus dipahami secara ilmiah oleh masyarakat, yaitu potensi siklus El Niño ekstrem yang diprediksi akan terjadi di masa depan. Ketika fenomena iklim global ini datang, wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk Sumbawa, secara alami akan mengalami pergeseran musim berupa kekeringan atau kemarau Panjang.
Oleh karena itu, menghubungkan dengan proyek Blok Elang dengan kesiapan menghadapi El Niño sejak dini bukanlah bentuk kekhawatiran, melainkan langkah edukasi agar masyarakat dan pemerintah bisa bersiap bersama menjaga kedaulatan air dan pangan di Sumbawa.
Memahami Hutan Ropang Sebagai Penyangga Air Strategis Kabupaten Sumbawa
Perlu dipahami bersama adalah fungsi ekologis bentang alam kita. Kawasan Hutan Ropang merupakan salah satu hutan penyangga air utama di Kabupaten Sumbawa. Hutan alami di dataran tinggi ini memiliki kemampuan hidrologis seperti spons raksasa yang menyerap dan menyimpan air ke dalam tanah saat musim hujan. Ketika kemarau panjang datang akibat El Niño melanda Sumbawa di masa depan, simpanan air dari kawasan hutan penyangga inilah yang menjaga ketersediaan debit air sungai agar tetap mengalir ke wilayah hilir. Melalui Forum AMDAL, masyarakat dapat melihat pentingnya zonasi perlindungan hulu. Memastikan area tangkapan air tetap lestari selama operasional tambang adalah kunci agar persawahan di hilir tetap mendapatkan pasokan air yang stabil meski cuaca sedang panas ekstrem terjadi.
Merawat Keseimbangan Sektor Tambang, Pertanian, dan Perkebunan
Sumbawa dikaruniai kekayaan alam yang berlapis. Di dalam perut bumi terdapat potensi mineral berharga, sementara di permukaan tanah terdapat sektor agraris yang subur. Kawasan Hutan Ropang dan sekitarnya sejak lama dikenal menghasilkan komoditas unggulan seperti kopi, kemiri, dan Madu Hutan. Komoditas pertanian dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) ini adalah motor penggerak ekonomi berkelanjutan (sustainable) warga setempat yang berbasis pada kelestarian alam. Kehadiran investasi Blok Elang harus dilihat sebagai momentum untuk memperkuat sektor-sektor ini, bukan melemahkannya. iklim mengajarkan kita bahwa menjaga ekosistem hutan penyangga air bukan hanya melindungi alam dari dampak El Niño, tetapi juga mengamankan masa depan pertanian dan perkebunan agar tetap produktif melintasi generasi.
Mengarahkan CSR Jangka Panjang-Solusi Infrastruktur Air Berkelanjutan
Dengan tahap konstruksi fisik Blok Elang yang direncanakan mulai pertengahan tahun 2027, pihak korporasi dan pemerintah daerah memiliki waktu yang cukup untuk merancang Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang adaptif terhadap perubahan iklim. Alih-alih menyasar program yang bersifat jangka pendek, masyarakat dapat mendorong pemanfaatan dana CSR pada penguatan infrastruktur air pertanian, seperti: 1) Pembangunan Embung dan Sumur Bor Dalam: Membangun kantong-kantong penampung air hujan (embung) dan sumur bor di wilayah persawahan yang rawan kekeringan agar petani memiliki cadangan air saat kemarau El Niño. 2) Modernisasi Irigasi dan Pipanisasi: Memfasilitasi jaringan pipa air bersih dari sumber air yang aman, serta mengenalkan teknologi irigasi hemat air (seperti drip irrigation) untuk efisiensi air di ladang warga. 3) Edukasi Pertanian Adaptif Iklim: Memberikan pelatihan dan penyediaan bibit tanaman pangan yang lebih toleran terhadap cuaca panas ekstrem guna menjaga ketahanan pangan daerah.
Partisipasi Cerdas Masyarakat Melalui Forum AMDAL
Dokumen AMDAL yang sedang disusun merupakan instrumen hukum yang mengikat janji perusahaan untuk menjaga keseimbangan alam dan sosial. Sesuai ajakan Bupati Sumbawa agar masyarakat memberikan masukan, keterlibatan warga harus berbasis pada dialog konstruktif dan pemahaman data. Warga yang teredukasi tidak akan sekadar menolak atau menerima tanpa dasar, melainkan akan mengajukan poin-poin diskusi yang logis kepada tim penyusun AMDAL (Bagaimana rencana tata ruang perusahaan agar area operasional tidak mengganggu zona inti Hutan Ropang sebagai penyangga air Sumbawa, Teknologi apa yang akan digunakan perusahaan untuk menghemat konsumsi air operasional agar tidak bersaing dengan kebutuhan irigasi petani di masa depan, Bagaimana jaminan integrasi program CSR pengelolaan air bersih masuk ke dalam rencana kerja resmi AMDAL).










