iklan caleg
Opini

Mereka di Garis Depan, Mengapa Masih di Pinggir Kebijakan?

Avatar photo
×

Mereka di Garis Depan, Mengapa Masih di Pinggir Kebijakan?

Sebarkan artikel ini
Ana Merdekwawaty

Oleh : Ana Merdekwawaty – Mahasiswa Program Doktoral Bidang Manajemen SDM Universitas Negeri Surabaya

Kabar Sumbawa – Pelayanan publik yang baik tidak hanya ditentukan oleh gedung, alat, atau program yang tertulis rapi di atas kertas. Di balik setiap layanan yang diterima masyarakat, selalu ada manusia yang bekerja, mendampingi, menenangkan, dan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu mudah.

Dalam layanan kesehatan ibu dan anak, peran itu dijalankan oleh para bidan. Karena itu, Hari Bidan Nasional setiap 24 Juni seharusnya tidak berhenti pada ucapan terima kasih, tetapi menjadi ruang refleksi tentang bagaimana negara dan organisasi memperlakukan mereka sebagai bagian penting dari sumber daya manusia pelayanan publik.

Bidan bukan sekadar tenaga kesehatan yang hadir saat proses persalinan. Peran mereka jauh lebih luas. Mereka mendampingi perempuan sejak masa remaja, kehamilan, persalinan, masa nifas, keluarga berencana, hingga kesehatan bayi dan balita.

Di banyak desa dan wilayah pinggiran, bidan sering menjadi orang pertama yang dicari masyarakat ketika ada persoalan kesehatan ibu dan anak. Artinya, mereka bukan hanya bekerja di ruang praktik, tetapi juga hidup dekat dengan denyut sosial masyarakat.

Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia, bidan adalah aset strategis pelayanan publik. Mereka menjalankan kebijakan, menerjemahkan program kesehatan, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan negara.

Gedung puskesmas, alat kesehatan, dan program pemerintah tidak akan bermakna banyak jika tidak ada tenaga kesehatan yang mampu melayani dengan sabar, sigap, dan bertanggung jawab. Di titik inilah posisi bidan menjadi sangat penting, bahkan menentukan kualitas pelayanan kesehatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Namun, di balik peran yang strategis itu, ada pertanyaan yang sering luput dibicarakan. Jika mereka begitu penting, mengapa kesejahteraan, perlindungan, dan pengembangan karier mereka belum selalu menjadi perhatian utama? Mengapa profesi yang berada di garis depan keselamatan ibu dan bayi masih kerap ditempatkan di pinggir kebijakan? Pertanyaan ini penting diajukan, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk membaca kembali cara kita mengelola tenaga kesehatan yang selama ini bekerja begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sebagian persoalan muncul karena kerja bidan sering dibaca sebagai kerja pengabdian semata. Karena profesi ini dekat dengan kerja merawat, mendampingi, dan menolong, maka beban kerjanya kerap dianggap sebagai sesuatu yang “wajar”. Padahal, dalam kajian perempuan, kerja perawatan sering menjadi kerja yang paling dibutuhkan, tetapi paling sering tidak terlihat. Ia hadir setiap hari, tetapi jarang dihitung secara adil. Ia menyelamatkan kehidupan, tetapi tidak selalu dibalas dengan perlindungan dan penghargaan yang sepadan.

Bidan juga menghadapi beban kerja yang tidak ringan. Mereka berhadapan dengan kondisi darurat, tekanan keluarga pasien, risiko medis, keterbatasan fasilitas, serta tuntutan pelayanan yang kadang tidak mengenal waktu. Dalam situasi tertentu, mereka harus menjadi tenaga kesehatan, pendidik masyarakat, konselor keluarga, bahkan penenang kepanikan. Beban seperti ini bukan hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan emosional yang besar. Sayangnya, aspek emosional dalam pekerjaan sering tidak masuk dalam hitungan kebijakan SDM.

Karena itu, membicarakan bidan tidak cukup hanya dari sudut kesehatan. Kita juga perlu membacanya dari sudut manajemen SDM dan keadilan gender. Sebagian besar bidan adalah perempuan. Mereka bekerja merawat perempuan lain, bayi, dan keluarga, sementara banyak dari mereka juga memikul tanggung jawab domestik di rumah. Di sinilah muncul beban ganda yang jarang dibicarakan secara terbuka. Mereka diminta kuat di tempat kerja, tetapi juga tetap diharapkan hadir penuh dalam keluarga.

Kebijakan SDM kesehatan perlu lebih peka terhadap pengalaman nyata perempuan dalam dunia kerja. Peka gender bukan berarti memberi perlakuan istimewa tanpa alasan, melainkan memastikan bahwa kebutuhan, risiko, dan tantangan khas yang dihadapi perempuan pekerja benar-benar diperhitungkan. Dalam konteks profesi bidan, hal ini berarti memperhatikan keamanan kerja, kesempatan pengembangan karier, perlindungan dari tekanan sosial, serta dukungan terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi.

Ada beberapa hal yang perlu diperkuat. Pengembangan kompetensi bidan harus dilakukan secara berkelanjutan dan merata. Jalur karier perlu dibuat lebih jelas agar mereka tidak merasa berjalan di tempat. Perlindungan kerja juga harus diperhatikan, terutama bagi mereka yang bertugas di wilayah dengan akses terbatas. Selain itu, dukungan psikologis penting diberikan karena pekerjaan yang berhubungan dengan keselamatan ibu dan bayi bukan pekerjaan yang ringan secara emosional.

Hari Bidan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang. Menghargai bidan tidak cukup dengan ucapan selamat atau spanduk penghormatan. Apresiasi yang lebih bermakna adalah memastikan mereka bekerja dalam sistem yang adil, aman, sehat, dan memberi ruang tumbuh.

Bidan telah lama berada di garis depan kesehatan ibu, anak, dan keluarga. Maka, sudah saatnya mereka tidak lagi berada di pinggir kebijakan. Sebab mereka yang menjaga awal kehidupan manusia, semestinya juga dijaga dengan kebijakan yang manusiawi.

Selamat Hari Bidan Nasional; semoga penghormatan kepada bidan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi hadir dalam kebijakan yang lebih manusiawi. (KS)

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *