Problem Based Blended Learning sebagai Bentuk Implementasi Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Date:

Oleh : Fahmi Yahya –
Dosen Pendidikan Fisika Universitas Samawa,
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Dalam rangka menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa harus disiapkan untuk lebih siap dengan kebutuhan zaman. Link and match tidak saja dengan dunia industri dan dunia kerja tetapi juga dengan masa depan yang berubah dengan cepat. Perguruan Tinggi dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan.

Proses pembelajaran dalam kurikulum Kampus Merdeka merupakan salah satu perwujudan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) yang sangat esensial. Pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika lapangan seperti persyaratan kemampuan, permasalahan riil, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, tuntutan kinerja, target dan pencapaiannya. Melalui program merdeka belajar yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, maka hard dan soft skills mahasiswa akan terbentuk dengan kuat (Dirjen Dikti Kemdikbud, 2020).

Salah satu karakteristik kurikulum merdeka adalah fokus pada materi yang esensial. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum merdeka lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Pendidik diberikan kebebasan untuk bisa menerapkan pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif, serta dapat menggunakan berbagai macam sumber belajar. Proses pembelajaran dalam kurikulum merdeka bisa lebih fleksibel, tidak hanya bisa dilakukan di kelas. Tapi juga bisa dilakukan di luar kelas, bahkan dalam platform online sekalipun melalui e-learning.

Salah satu model pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum merdeka adalah problem-based learning (PBL). Model pembelajaran ini dilandaskan pada teori konstruktivis kognitif yang dikemukakan oleh Piaget (1954, 1963), yang menyatakan bahwa mahasiswa dari segala usia harus aktif terlibat dalam memperoleh informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Ilmu pengetahuan itu tidak statis, melainkan terus berkembang dan berubah ketika mahasiswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka untuk membangun dan memodifikasi pengetahuan sebelumnya (Arends,2012:400).

Model PBL didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model ini menuntut mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan investigasi atau penyelidikan untuk membangun pengetahuannya sendiri, menggunakan keterampilan kognitifnya untuk memecahkan masalah atau situasi yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Mahasiswa diminta berpikir kritis, mengidentifikasi informasi yang relevan, dan mencari solusi yang tepat. Hal ini dapat membantu memperkuat hubungan antara pengetahuan yang ada dan informasi baru yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Herayanti & Habibi (2015) mengungkapkan bahwa PBL dapat membantu meningkatkan rasa ingin tahu, keterampilan berpikir, dan kreativitas mahasiswa.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi, seringkali dikombinasikan antara tatap muka (luring) dengan pembelajaran (daring). Pembelajaran seperti ini dikenal dengan blended learning. Menurut Driscoll, blended learning adalah bentuk pengembangan (evolusi) model pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tatap muka di kelas (model klasik) dan pembelajaran online (e-learning) dengan memanfaatkan berbagai variasi media pembelajaran sesuai kebutuhan materi ajar dan mahasiswa (Wijoyo, dkk., 2020). Penerapan blended-learning pada pembelajaran di perguruan tinggi dapat mempermudah mahasiswa dalam pembelajaran online karena tidak dibatasi ruang dan waktu. Selain itu, juga memberikan kebebasan mahasiswa untuk berdiskusi dengan sesamanya baik secara online maupun offline.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk membahas implementasi problem based learning (PBL) yang terintegrasi dalam blended learning dalam pembelajaran di perguruan tinggi, yang kemudian disebut dengan problem based blended learning (PB2L), sebagai salah satu model yang direkomendasikan dan dilaksanakan dalam kurikulum merdeka. Dimana dalam pelaksanaannya proses pembelajarannya menggunakan sintaks atau langkah-langkah PBL. Namun dalam sintaks tersebut, terdapat sintaks PBL yang dilaksanakan secara online melalui e-learning dan juga secara offline melalui tatap muka di kelas.

Problem Based Blended Learning (PB2L) merupakan konsep pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring (synchronous dan asynchronous) berbasis masalah. Model pembelajaran ini menggunakan masalah nyata sebagai konteks bagi mahasiswa untuk belajar berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, dan memperoleh pengetahuan mengenai esensi konsep. Mahasiswa harus terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga mereka dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dari berbagai sumber yang ada di internet.

Dalam penerapannya, integrasi PBL dan blended learning dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan komunikasi siswa. Tujuan dari perpaduan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis daring pada model belajar PBL yang efektif adalah untuk mampu meningkatkan aktivitas mahasiswa, selain itu dosen dan mahasiswa dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung kapanpun dan dimanapun. Sehingga, kualitas pembelajaran jadi lebih baik (Suryani, 2013). Beberapa hasil penelitian telah menyebutkan bahwa integrasi blended learning dan PBL lebih efektif dibandingkan model pembelajaran PBL konvensional. Penggabungan PBL dengan blended learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah mahasiswa (Pitaloka & Suyanto, 2019).

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan problem-based blended learning.

1. Identifikasi Tujuan Pembelajaran: Tentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan menggunakan pendekatan Problem-Based Blended Learning. Pastikan tujuan ini sesuai dengan kurikulum dan kompetensi yang ingin diajarkan.

2. Pilih Tema atau Topik Pembelajaran: Pilih tema atau topik pembelajaran yang relevan dengan tujuan pembelajaran. Topik ini harus memungkinkan pemecahan masalah dan keterlibatan aktif siswa.

3. Identifikasi Masalah Pusat (Problem-Based Learning): Tentukan masalah pusat atau kasus yang akan menjadi fokus pembelajaran. Masalah ini seharusnya memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman mereka tentang topik yang dipilih.

4. Desain Materi Pembelajaran Daring: Buat materi pembelajaran daring yang relevan dengan masalah pusat. Ini dapat berupa video, artikel, slide presentasi, atau sumber daya online lainnya. Pastikan materi ini dapat diakses oleh mahasiswa secara mandiri.
Aktivitas Pembelajaran Daring: Tentukan aktivitas yang akan dijalankan secara daring, seperti diskusi online, tugas online, atau modul pembelajaran interaktif. Aktivitas ini harus mengarahkan mahasiswa untuk memahami masalah pusat dan mengumpulkan informasi terkait.

5. Persiapan mahasiswa: Berikan panduan kepada mahasiswa tentang bagaimana mereka akan terlibat dalam pembelajaran daring. Pastikan mereka memahami tujuan pembelajaran, tugas yang diberikan, dan bagaimana mereka dapat mengakses materi dan sumber daya yang diperlukan.

6. Diskusi Kelompok Tatap Muka: Di dalam sesi tatap muka, peserta dapat dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Fasilitator atau dosen dapat memandu diskusi kelompok untuk membantu mahasiswa memecahkan masalah pusat dan berkolaborasi.

7. Tugas dan Proyek Kelompok: Berikan tugas atau proyek kelompok kepada mahasiswa yang berkaitan dengan masalah pusat. Tugas ini harus mendorong mahasiswa untuk menggali lebih dalam, berpikir kritis, dan mencari solusi kreatif.

8. Pembimbingan oleh Dosen: Dosen atau fasilitator dapat memberikan bimbingan, umpan balik, dan dukungan kepada mahasiswa selama proses pembelajaran. Mereka juga dapat menjawab pertanyaan dan memberikan arahan jika diperlukan.

9. Evaluasi dan Penilaian: Gunakan berbagai bentuk penilaian, seperti ujian, tugas proyek, atau penilaian berbasis portofolio, untuk menilai pemahaman mahasiswa terhadap topik dan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah.

10. Refleksi dan Pembelajaran Lanjutan: Setelah selesai pembelajaran, dosen dan mahasiswa dapat melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, masalah yang dipecahkan, dan pembelajaran yang diperoleh. Ini dapat membantu perbaikan pada iterasi berikutnya.

11. Iterasi dan Perbaikan: Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi, dosen dapat melakukan perbaikan pada pendekatan pembelajaran Problem-Based Blended Learning untuk pembelajaran selanjutnya. (KS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

iklan DPRD iklan caleg

Populer

More like this
Related

KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI MERUBAH CARA BERPIKIR GENERASI MUDA

Oleh : Ahmad Jasum - Mahasiswa Manajemen Inovasi Pascasarjana Universitas...

DISIPLIN POSITIF MULAI DARI RUMAH HINGGA KE SEKOLAH

Penulis : Nasruddin, S.HI - Mahasiswa Program Pascasarjana Manajemen...

PERAN GURU UNTUK SISWA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI

Oleh : Riska Harmelia – Mahasiswa Semester III Pendidikan...

PARADIGMA PENDIDIKAN PROGRESIF PROFETIK SEBAGAI PILAR PENDIDIKAN BERPENCIRI DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PENDIDIKAN GLOBAL

OLEH: SYAIFULLAH, S.Ag - Mahasiswa Program Pascasarjan Manajemen Inovasi...