iklan caleg
Opini

Agilitas Atau Ilusi? Menimbang Ulang Makna Keunggulan Dalam Manajemen SDM

Avatar photo
×

Agilitas Atau Ilusi? Menimbang Ulang Makna Keunggulan Dalam Manajemen SDM

Sebarkan artikel ini
ERMA SURYANI

Oleh : ERMA SURYANI – Mahasiswa Program Doktoral Bidang Manajemen SDM  Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Pada 24 Juni mendatang, Indonesia kembali memperingati Hari Bidan Nasional, bertepatan dengan hari lahirnya Ikatan Bidan Indonesia (IBI) pada 1951. Peringatan ini datang tidak lama setelah dunia merayakan Hari Bidan Internasional dengan tema besar “One Million More Midwives” sebuah seruan mendesak untuk menambah satu juta tenaga bidan di seluruh dunia guna merespons krisis tenaga kesehatan global yang mengancam keselamatan ibu dan bayi. Bersamaan dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia mendorong transisi menuju Midwifery Models of Care, sebuah pendekatan yang menempatkan bidan sebagai penyedia layanan utama yang mendampingi perempuan secara berkelanjutan, mulai dari masa kehamilan, persalinan, hingga nifas.

 

Ironisnya, di tengah seruan global untuk memperkuat profesi bidan, banyak institusi pendidikan kesehatan di Indonesia justru masih bergumul dengan pertanyaan mendasar: bagaimana mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi, kebijakan, dan ekspektasi masyarakat yang bergerak begitu cepat? Pertanyaan ini membawa kita pada dua konsep dalam manajemen sumber daya manusia yang sebenarnya saling melengkapi, yakni strategy agility dan sustainable competitive advantage, sebagai lensa untuk membaca ulang arah pengembangan pendidikan kebidanan dan profesi kesehatan secara lebih luas. Selama ini, fungsi pengelolaan SDM di banyak institusi termasuk institusi pendidikan kesehatan masih terjebak pada peran administratif: mengurus presensi, penjadwalan, dan kepatuhan terhadap standar minimal. Namun tren pengelolaan SDM di Indonesia memasuki 2026 menunjukkan pergeseran besar. Fungsi SDM dituntut menjadi mitra strategis yang menentukan daya saing organisasi, dengan ciri utama: lebih gesit, berbasis data, dan tetap berorientasi pada manusia. Agilitas dalam konteks ini bukan sekadar kemampuan bergerak cepat, melainkan kapasitas organisasi untuk secara konsisten membaca perubahan, merespons dengan keputusan yang tepat, dan mentransformasi struktur serta kompetensi internal agar tetap relevan.

 

Bagi institusi pendidikan kebidanan, ini berarti kurikulum tidak boleh lagi disusun sebagai dokumen statis yang direvisi setiap lima tahun, melainkan sebagai kerangka hidup yang terus disesuaikan dengan perkembangan epidemiologi, regulasi profesi, kebutuhan fasilitas kesehatan, dan yang semakin mendesak transformasi digital dalam layanan kesehatan. Pertanyaannya sederhana namun menantang: seberapa cepat sebuah program studi kebidanan mampu mengubah materi ajar, metode praktikum, atau standar kompetensi lulusannya ketika muncul kebijakan baru, teknologi baru, atau pola penyakit baru? Kecepatan inilah yang menjadi penentu apakah sebuah institusi akan tertinggal atau justru menjadi rujukan.

 

Namun agilitas semata tidak cukup jika tidak diarahkan untuk membangun sesuatu yang bertahan lama. Di sinilah konsep sustainable competitive advantage berperan. Dalam pandangan berbasis sumber daya, keunggulan bersaing yang berkelanjutan lahir dari sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak mudah tergantikan. Jika kerangka ini diterapkan pada profesi bidan, jawabannya mengarah pada satu hal yang sering diabaikan: kombinasi antara kompetensi klinis yang mendalam, kemampuan membangun hubungan kepercayaan jangka panjang dengan pasien, dan literasi digital untuk mendukung pemantauan kesehatan berbasis data. Kombinasi ini sulit ditiru oleh teknologi otomatis sekalipun, karena inti dari praktik kebidanan adalah relasi manusia yang berkelanjutan sesuatu yang justru ditegaskan kembali oleh model Midwifery Models of Care sebagai standar global. Bagi institusi pendidikan, ini berarti keunggulan tidak lagi cukup diukur dari akreditasi atau jumlah lulusan, melainkan dari sejauh mana lulusan tersebut membawa nilai unik yang dibutuhkan sistem kesehatan: mampu memberikan asuhan berkesinambungan, sekaligus cakap memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusiawi yang menjadi jantung profesi ini. Tantangan ini semakin nyata jika dilihat dari arah perkembangan pendidikan di Indonesia memasuki 2026, yang diwarnai oleh dorongan kuat ke arah digitalisasi mulai dari integrasi kecerdasan artifisial dalam kurikulum hingga penguatan manajemen pendidikan berbasis data. Namun di lapangan, tantangan klasik tetap membayangi: kesenjangan akses teknologi antarwilayah, keterbatasan kompetensi pengajar dalam mengoperasikan perangkat digital, dan kurikulum yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan dunia kerja.

 

Pendidikan kebidanan menghadapi tantangan ganda dalam lanskap seperti ini. Di satu sisi, ia harus menjaga kualitas pembelajaran klinis berbasis praktik langsung yang tidak bisa digantikan oleh simulasi digital semata. Di sisi lain, ia dituntut membekali mahasiswa dengan kemampuan menggunakan sistem rekam medis elektronik, telekonsultasi, hingga analisis data kesehatan masyarakat keterampilan yang semakin menjadi standar di fasilitas kesehatan modern. Di titik inilah agility dan sustainable competitive advantage bertemu. Institusi yang mampu merancang kurikulum yang lentur menggabungkan kekuatan tradisional praktik kebidanan dengan kecakapan digital baru akan menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah ganda: kompeten secara klinis dan siap menghadapi ekosistem kesehatan yang semakin digital. Nilai tambah ganda inilah yang menjadi sumber keunggulan yang sulit disusul oleh institusi yang masih berkutat pada model pembelajaran konvensional satu arah.

 

Di sinilah momentum Hari Bidan Nasional menemukan relevansinya yang lebih dalam. Setiap tahun, peringatan ini kerap diisi dengan seremoni penghargaan dan ungkapan terima kasih atas dedikasi para bidan sebuah hal yang memang layak dan penting. Namun momentum ini semestinya juga menjadi titik refleksi strategis bagi tiga pihak. Bagi institusi pendidikan, ini adalah pengingat untuk menata ulang proses pengembangan kurikulum agar lebih responsif, melibatkan praktisi di lapangan secara berkala, dan membangun mekanisme evaluasi yang tidak menunggu siklus akreditasi untuk melakukan perubahan. Bagi organisasi profesi seperti IBI, ini adalah momen untuk memperkuat peran sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan riil layanan kesehatan, termasuk dalam merumuskan standar kompetensi yang adaptif terhadap perkembangan global. Dan bagi pembuat kebijakan, ini adalah pengingat bahwa investasi pada pendidikan kebidanan bukan sekadar memenuhi kuota tenaga kesehatan, melainkan membangun aset strategis jangka panjang bagi sistem kesehatan nasional.

 

Seruan global untuk menambah satu juta bidan seharusnya tidak dibaca semata sebagai persoalan kuantitas. Di balik angka tersebut, terdapat pesan yang lebih dalam: dunia membutuhkan tenaga kesehatan yang mampu beradaptasi dengan cepat, namun tetap menjaga esensi pelayanan yang manusiawi dan berkelanjutan. Bagi Indonesia, momentum Hari Bidan Nasional tahun ini bisa menjadi titik awal untuk menggeser cara pandang dari sekadar memenuhi kebutuhan tenaga kerja kesehatan, menuju membangun keunggulan bersaing yang berkelanjutan melalui pengembangan SDM yang agile. Institusi pendidikan kesehatan yang berani melakukan transformasi ini bukan hanya akan menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga turut membentuk fondasi sistem kesehatan yang lebih tangguh menyongsong Indonesia Emas 2045.

 

Pada akhirnya, agilitas tanpa arah hanya akan menghasilkan perubahan yang sia-sia, dan keunggulan tanpa kemampuan beradaptasi hanya akan menjadi keunggulan sesaat. Hari Bidan Nasional mengingatkan kita bahwa keduanya kecepatan beradaptasi dan keunggulan yang bertahan lama harus berjalan beriringan, sebagaimana seorang bidan mendampingi setiap proses kehidupan baru: dengan kesiapan menghadapi ketidakpastian, namun tanpa kehilangan nilai inti yang menjadi alasan profesi ini begitu dihormati. (KS)

 

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *