iklan caleg
Sosial Budaya

Petani Desa Sepayung Temukan Rahasia Hemat Air 50% Lewat Inovasi Mahasiswa KKL UNSA

Avatar photo
×

Petani Desa Sepayung Temukan Rahasia Hemat Air 50% Lewat Inovasi Mahasiswa KKL UNSA

Sebarkan artikel ini

SUMBAWA, kabarsumbawa.com – Di tengah ancaman cuaca ekstrem, para petani di Desa Sepayung, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, kini memiliki senjata baru untuk menjaga kesuburan lahan mereka. Hal ini terwujud setelah Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Kelompok 20 Universitas Samawa (UNSA) sukses menggelar workshop pertanian inovatif di desa setempat. Kegiatan yang dihadiri antusias oleh puluhan petani Desa Sepayung ini berfokus pada pelatihan pembuatan biochar sekam padi menggunakan Metode Pembakaran Kon-Tiki. Teknologi pirolisis ini dinilai sangat cocok untuk petani karena hemat biaya dan ramah lingkungan, mampu menghasilkan karbon murni dengan sistem pembakaran yang minim asap.
Solusi Alami Hadapi Krisis Air dan Lahan Kering
Narasumber kegiatan sekaligus Dosen Fakultas Pertanian UNSA, Heri Kusnayadi, MP, menjelaskan bahwa penguapan ekstrem akibat terik matahari dan struktur tanah yang rusak menjadi tantangan utama yang dihadapi petani saat ini. Tanah yang padat dan keras membuat kemampuan mengikat air menurun drastis, sehingga meningkatkan biaya perawatan tanaman.
“Pemanfaatan limbah sekam mentah menjadi biochar ini berfungsi seperti spons penyimpan air di dalam tanah,” ujar Heri Kusnayadi saat memaparkan materi di hadapan para petani. “Melalui mekanisme pelepasan lambat (slow release), pori mikro biochar akan mengunci air saat disiram dan melepaskannya kembali secara perlahan ke akar saat tanah mulai kering. Formulasi ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi penyiraman hingga 50 persen.”
Beliau menambahkan bahwa selain menghemat air, biochar sekam padi juga efektif mengikat unsur hara, memperbaiki tingkat keasaman (pH) tanah, serta membuat tanaman lebih kuat terhadap serangan hama dan penyakit.
Apresiasi dan Harapan Pemerintah Desa
Kehadiran Mahasiswa KKL Kelompok 20 UNSA ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah desa. Kepala Desa Sepayung, Bapak Sahabuddin, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif nyata mahasiswa yang langsung menyentuh kebutuhan utama warganya.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKL Kelompok 20 UNSA dan juga pemateri yang telah membagikan ilmu berharga ini kepada warga kami,” kata Sahabuddin. “Masalah air dan kesuburan tanah adalah persoalan krusial bagi petani di sini. Dengan adanya teknologi Kon-Tiki yang murah dan mudah ini, saya berharap para petani di Desa Sepayung bisa segera menerapkannya di lahan masing-masing agar tanaman tetap segar dan hemat air.”
Praktek Kerja dan Formulasi Aplikasi
Dalam kegiatan tersebut, para petani tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga diajak mempraktekkan langsung langkah kerja pembuatan biochar. Mulai dari proses penyulutan api di wadah kerucut terbalik, pengisian sekam secara bertahap, menjaga proses pirolisis, hingga tahap terminasi menggunakan air. Untuk pengaplikasian yang efektif, narasumber memberikan panduan formulasi rasio media tanam, yaitu mencampurkan 1 bagian biochar sekam padi, 3 bagian tanah topsoil, dan 1 bagian kompos organik secara merata. Lewat metode ini, frekuensi penyiraman harian dapat dikurangi secara drastis tanpa membuat tanaman mengalami stres air.

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *