iklan caleg
Sosial Budaya

Ketua Komunitas Lar Leba Dodo Lampui Bantah Klaim Cek Bocek, Harapkan AMMAN Beri Akses ke Makam Leluhur

Avatar photo
×

Ketua Komunitas Lar Leba Dodo Lampui Bantah Klaim Cek Bocek, Harapkan AMMAN Beri Akses ke Makam Leluhur

Sebarkan artikel ini

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Ketua Komunitas Lar Leba Dodo Lampui, M. Yasin A.D menyebutkan klaim kelompok Cek Bocek terhadap wilayah adat seluas 20 ribu hektare termasuk klaim atas area kuburan leluhur warga, tidak pernah ada dalam sejarah leluhur mereka. Hal ini disampaikan Yasin dalam rilis tertulis yang diterima media ini, Jumat 31 Juli 2026.

Menurut Yasin, klaim kelompok tersebut atas adanya datu atau pemimpin adat pada masa lampau, ia menduga itu hanya setingkat kuala dusun. “Kami tidak masuk adat manapun. Ketika mereka mengaku ada datu itu menurut kami kuala dusun di sana,” katanya.

Ia juga menanggapi klaim penggunaan logat berco. Menurutnya, logat semacam itu sebenarnya sudah ada sejak lama dan baru belakangan ini dinamakan berco.

Yasin menilai klaim tersebut janggal karena tidak disepakati banyak pihak, termasuk oleh warga Lawin sendiri, wilayah asal kelompok tersebut.

“Tidak banyak orang Lawin klaim begitu. Bahkan mereka merasa baru karena asing,” ujarnya. Ia menegaskan masyarakat Dodo dan Leba tidak pernah mengklaim tanah di wilayah itu untuk diri mereka sendiri, karena tanah tersebut diakui sebagai milik negara. “Kami tidak pernah klaim tanah karena tanah milik pemerintah. Kami cukup diakui saja berada di sana,” katanya.

Lebih jauh, Yasin menyebut klaim Cek Bocek sebagai adat tertua di kawasan itu tidak didukung bukti sejarah tertulis. Ia meminta agar ada bukti otentik seperti artefak, prasasti, atau lontar sebelum klaim tersebut bisa diterima.

“Kecuali ada bukti-bukti sejarah seperti artefak, prasasti atau lontar. Tapi ini tidak ada sumber sumber tertulis,” ujarnya.

Ia menyamakan klaim tersebut dengan cerita turun-temurun tanpa dasar. “Ini hanya hayalan aja. Mereka khayalkan begini karena gak pernah ada data auentik atau sumber resmi seperti prasasti, kedatuan dulu. Kalau dari telinga ke telinga bisa kita khayalkan saya pernah di bulan atau kakek saya raja Makassar,” selorohnya.

Meski keberatan, Yasin mengaku tidak geram dan menganggap klaim tersebut sebagai lucu-lucuan mengingat masih ada hubungan kekeluargaan antarwarga.

Ia menambahkan bahwa keberatan warga bukan pada hubungan kekeluargaan antarwilayah, melainkan pada oknum yang mengatasnamakan adat baru tersebut.

Yasin juga menilai kelompok Cek Bocek meniru struktur pemerintahan Kedatuan Sumbawa tanpa memiliki dasar historis yang jelas. “Kami melihat meniru struktur pemerintahan Kedatuan Sumbawa saat itu. Padahal itu tidak pernah ada. Tidak ada trah-trah itu. Coba tanya mereka pasti mereka tidak mengerti sejarahnya,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Yasin turut menyinggung kendala akses menuju makam leluhur mereka yang berada di kawasan AMMAN Mineral, seraya berharap perusahaan dapat memberikan akses bagi warga untuk melakukan ziarah tahunan atau yang lebih dikenal sebagai ‘Jango Kubir’. (KS)

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *