Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Di tengah arus modernisasi yang kerap mereduksi tradisi lokal menjadi sekadar etalase pariwisata, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) PCNU Kabupaten Sumbawa mengambil langkah nyata untuk merawat akar spiritualitas masyarakat Tau ke Tana Samawa.
Melalui dukungan strategis dari Kementerian Kebudayaan RI, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan program Dana Indonesiana, LAKPESDAM PCNU Sumbawa sukses menggelar lokakarya bertajuk “Ritual Filosofis Tradisi Sufistik di Kabupaten Sumbawa: Pengaruh Tasawuf dalam Kebudayaan” di Balai Pertemuan Desa Lenangguar, Rabu (13/5).
Kepala Desa Lenangguar, Syahruddin, S.P., M.Si., yang membuka acara secara resmi, menegaskan bahwa desa merupakan benteng pertahanan kebudayaan.
“Kolaborasi antara nilai-nilai agama yang luhur dan kearifan lokal adalah kunci utama dalam menjaga keharmonisan masyarakat kita di akar rumput,” tegasnya.
Ketua LAKPESDAM PCNU Sumbawa, Muhazi Ramadhan, menyoroti fenomena devaluasi makna ritual yang kini mengancam kebudayaan Sumbawa.
“Kita menghadapi tantangan serius. Banyak tradisi yang dahulu dihayati dengan penuh rasa, kini seringkali hanya menjadi tontonan visual atau sekadar pemenuhan syarat administratif pariwisata. Melalui forum ini, kami ingin menyambung kembali sanad pemikiran itu agar setiap ritual adat kita kembali memiliki ruh dan isi filosofis, bukan sekadar cangkang luarnya saja,” ujar Muhazi.
Sesi diskusi membedah bagaimana Islamisasi di Sumbawa pada abad ke-16 tidak terjadi lewat paksaan, melainkan melalui pendekatan tasawuf atau “jalur rasa”.
Akademisi Hendra Gunawan, M.Pd. memaparkan bahwa metode penetrasi budaya yang lembut (penetration pacifique) membuat ajaran Islam melebur dan menyempurnakan nilai-nilai luhur masyarakat lokal.
Hendra membongkar kedalaman filosofis di balik ritual adat Sumbawa yang selama ini mungkin dianggap biasa: Barodak: Lebih dari sekadar luluran fisik pranikah bagi calon pengantin, ritual ini adalah manifestasi dari tazkiyatun nafs—upaya penyucian jiwa sebelum memikul tanggung jawab peradaban dalam rumah tangga.
Budayawan Wahyudin Latif, menyampaikan lawas lawas bernuansa tasawuf selain itu menekankan bahwa kearifan lokal berbasis tasawuf ini adalah imunitas alami masyarakat Sumbawa.
“Tasawuf yang moderat adalah benteng kultural terkuat kita untuk menangkal pemahaman keagamaan yang kaku, kering, dan radikal,” jelasnya.
Workshop yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat—mulai dari tokoh adat, tokoh agama tokoh masyarakat perwakilan pemuda, perwakilan perempuan, Sandro Minyak dan Sandro Tamang—ini tidak akan berhenti pada sebatas diskusi.
Sebagai tindak lanjut konkret, kegiatan ini akan menghasilkan Modul Pelestarian Budaya Berbasis Nilai Tasawuf. Modul ini dirancang untuk menjadi panduan aplikatif bagi para pendidik, pegiat literasi, dan komunitas lokal di Sumbawa.
Melalui sinergi lintas sektor ini, LAKPESDAM PCNU Sumbawa berharap masyarakat tidak hanya bangga pada keindahan visual budayanya, tetapi mampu menginternalisasi nilai-nilai universal tasawuf—seperti kesabaran, cinta kasih, dan ketawadhu’an—dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (KS)









