Sumbawa Barat, Kabarsumbawa.com – Udara dingin menerpa siapa saja yang melintasi pegunungan Desa Rarak Ronges, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat. Desa yang berada di atas ketinggian 800 mdpl tersebut, terhampar ratusan hektar perkebunan kopi. Bagi masyarakat setempat, kopi bukan sekadar minuman di pagi hari, tetapi identitas yang sempat hampir punah dimakan waktu dan tergerus iklim yang kian berubah.
Beberapa tahun silam, aroma khas kopi robusta khas Desa Rarak Ronges sempat hampir tidak tercium lagi. Pohon-pohon kopi yang sudah menua dimakan usia, lahan-lahan mulai mengering, hingga petani mulai menebang pohon kopi dan menggantinya dengan tanaman jagung.
Kondisi tersebut menggerakkan hati Wardani Murti untuk menanggalkan seragam putihnya dan mengambil keputusan berani beralih dari perawat sesama menjadi perawat Kopi Desa Rarak Ronges.
Kisah Wardani terbilang unik. Pada tahun 2017 silam, ia masih berseragam putih sebagai perawat di puskesmas hingga instansi BUMN, mengabdikan diri untuk kesehatan sesama. Namun, setiap kali ia berkunjung ke kampung halaman istrinya, ada jeritan yang selalu terngiang di telinganya.
“Kopi Rarak sangat terkenal. Orang hanya mengenal namanya, tapi saat datang mencari kopinya tidak ada,” kenangnya.
Keputusan besar Wardani meninggalkan dunia medis berawal pada tahun 2019 lalu. Saat itu, masa kontrak kerjanya berakhir tidak lama setelah ia menikah. Wardani memilih untuk fokus mengejar mimpinya sebagai Perawat Kopi Desa Rarak Ronges.
Wardani membangun usaha kopi bersama istrinya. Di bawah bendera UD Yuspita, ia memproduksi kopi dari hasil kebun sendiri serta menyerap hasil panen petani meski tidak maksimal. Kopi yang ia produksi di kemas sederhana menggunakan plastik es bening. Penjualannya mengandalkan komunitas ataupun warga lokal ketika sedang ada acara.
Tantangan lain yang ia hadapi, varietas kopi robusta yang bukan unggulan, beralihnya petani menanam jagung, hinnga modal yang tidak seberapa. Bahkan, dalam satu tahun ia hanya mampu memproduksi sekitar 500 kilogram.
“Kalau saya ingat awal-awal merintis bersama istri sangat sulit sekali. Penjualan hanya sebatas komunitas, kami tidak bisa menyerap banyak dari petani kerena terkendala modal, hingga petani yang mulai tinggalkan kopi dan beralih ke jagung,” ujarnya.
Mimpi besar Wardani mendapat restu dari semesta. Pertemuan tidak disengaja dengan rombongan wisatawan di Air Terjun Desa Rarak yang ia ajak singgah makan siang di rumahnya kala itu menjadi titik balik dari semua kisah pelik perjuangannya membangun usaha bersama istri.
Jamuan sederhana lengkap dengan kopi racikannya mengubah segalanya. Salah satu dari rombongan tersebut ternyata istri dari pejabat di Devisi Sosial Impact PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Dari sinilah kolaborasi membangun mimpi besar merawat Kopi Rarak pun dimulai.
“Saat itu ada tamu datang ke air terjun, saya ajak makan siang di rumah. Tapi saya juga tidak tahu kalau itu istri pejabat AMMAN. Setelah itu, dia meminta anak buahnya untuk kembali lagi ke sini untuk mengambil data untuk mengangkat produk UMKM ini supaya bisa menjadi produk yang naik kelas,” kisahnya.
Sejak pertemuan itu, usaha Wardani mulai tersentuh program pembinaan dari AMMAN. Ia mendapatkan bimbingan intensif, mulai dari branding hingga pemasaran. Selain itu, kolaborasi dengan pemuda lokal binaan AMMAN di Sumbawa Barat yang memiliki keahlian di bidang desain visual pun menciptakan kemasan produk yang solid, hingga pada akhirnya melahirkan identitas baru bernama Kawarama.
Tidak sembarangan, nama Kawarama diambil Kelompok Tani Wanita (KWT) bentukan istrinya. Istilah tersebut memiliki filosofi yang bermakna, “Kawa” berarti kopi, dan “Rama” berarti orang banyak. “Kopi untuk semua, tanpa batasan”.
“Kawarama ini ada semacam tanah adat yang bisa diambil hasilnya oleh warga Rarak namun tidak untuk dijual, tapi untuk kebutuhan masyarakat seperti membuat masjid, dan lain-lain,” tuturnya.
Kawarama mulai menjadi denyut nadi ekonomi desa. Produksi meningkat hingga penjualan pun meluas ke Pulau Lombok dan Bali. Bahkan, pemberdayaan masyarakat bisa ia lakukan dalam proses produksinya.
Ia pun menerapkan sistem humanis dalam proses pemberdayaan masyarakat. Petani yang kekurangan biaya sekolah anak bisa mengambil uang di muka dengan jaminan hasil panen kopi nantinya. Dukungan rutin juga diberikan untuk kegiatan pemuda, seperti kostum olahraga, dan berbagai kegiatan lainnya.
“Sejak pembinaan sangat besar perubahannya, mulai dari brand baru, penjualan yang meluas, hingga saya bisa melibatkan masyarakat dalam proses produksi,” jelasnya.
Rupanya, tantangan Wardani mengejar mimpi tidak berhenti sampai di situ. Produksi kopi Rarak sempat turun drastis. Faktor pohon yang tua, varietas yang kurang unggul, hingga perubahan cuaca membuat banyak petani beralih menanam tanaman jagung.
Bersama AMMAN, Wardani mencoba memecahkan persoalan ini. Mulai dari mendatangkan ahli dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), melatih petani, hingga membuat kebun demplot sebagai pusat edukasi bagi petani tentang cara merawat pohon agar produktivitasnya kembali naik.
“Saat menjelaskan saat itu bahwa produksi kopi rarak selalu menurun setiap tahun. Saya berdiskusi dengan Pak Aji Suryanto dan Pak Dimas tentang persoalan itu. Hingga pada akhirnya muncul program-program tersebut seperti kebun demplot yang sudah ditanami 1.600 pohon jenis robusta unggulan di akhir tahun 2025 dan mendapatkan pendampingan dari tenaga ahli mitra AMMAN,” ujarnya.
Bersama AMMAN, kini Wardani menatap masa depan yang lebih cerah. Ambisinya tidak main-main. Menjadikan Kawarama sebagai pemasok green bean terbesar di Sumbawa Barat hingga menembus pasar internasional. Saat ini, Kopi Rarak juga sedang dalam proses pengajuan Indikasi Geografis (IG) untuk masuk ke dalam jajaran kopi unggulan Nusantara.
“Target dan mimpi besar Kawarama bisa menjadi supplier green bean terbesar di KSB. Saya ingin menjadi besar dan menyerap seluruh hasil produksi petani kopi di Desa Rarak. Saya ingin membuat Kopi Rarak ini terkenal hingga ke kancah internasional melalui ekspor green bean. Sampai saat ini saya yakin mimpi itu bisa terwujud, apalagi saya dan UMKM lain di KSB terus mendapat pembinaan dari AMMAN,” harapnya.
Bagi AMMAN, perkembangan Kawarama merupakan hal yang sangat luar biasa. Dari industri rumahan menjadi penggerak ekonomi desa yang mandiri dan berdaya saing. Melalui program pembinaan, AMMAN terus mendorong Kawarama untuk terus berkembang dan naik kelas.
AMMAN melihat Kopi Kawarama memiliki komitmen yang kuat untuk terus berkembang. Produk kopi dengan ciri khas dan membawa potensi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai sebagai keunggulan daerah. Sehingga, AMMAN memastikan produk Kopi Kawarama menjadi bagian dari upaya dalam mendorong UMKM lokal agar memiliki kapasitas usaha, kualitas produk, dan daya saing yang semakin baik.
Kopi Kawarama tercatat di dalam katalog UMKM mitra AMMAN sebagai produk kopi unggulan Sumbawa Barat ditanam secara organik di Desa Rarak Ronges, dengan jenis Robusta, Liberika, dan Luwak Liar, dan telah meraih penilaian sebagai fine robusta oleh lembaga kopi internasional. Dengan pendekatan yang tepat, Kopi Kawarama berpotensi menjadi salah satu produk khas Sumbawa Barat yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas hingga kancah internasional.
“AMMAN membuka kesempatan bagi seluruh UMKM lokal yang memiliki komitmen untuk berkembang, mengikuti proses pelatihan, serta bersedia menjalankan pendampingan secara berkelanjutan. Sejak awak Kawarama menunjukkan hal tersebut,” Senior Manager Social Impact AMMAN Aji Suryanto.
Dalam konteks ekonomi kreatif, AMMAN menilai Kopi Kawarama tidak hanya dapat diposisikan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai produk bernilai tambah yang dapat dikembangkan melalui penguatan branding, kemasan, cerita produk, standar mutu, serta perluasan akses pasar.
“Saat ini, Kawarama menjadi salah satu produk unggulan hub UMKM Silarasa sebagai salah satu produk lokal paling dicari konsumen,” ujar Aji Suryanto.
Demi Keberlanjutan Ekosistem Kopi Rarak Ronges
Meski secara umum perkembangan UMKM Kopi Kawarama berkembang dengan pesat, ketersediaan bahan baku cukup menjadi kendala mendasar. AMMAN melihat hal itu sebagai sebuah masalah yang harus diselesaikan dengan baik.
Sebagai upaya mempertahankan ekosistem Kopi Rarak Ronges, AMMAN telah memulai program pengembangan demplot kopi Robusta unggul pada periode 2024–2025 bersama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Kegiatan ini mencakup pendampingan pembangunan demplot, pelatihan budidaya sesuai standar Good Agricultural Practices, introduksi klon Robusta unggul, distribusi bibit kopi dan pohon penaung, serta dukungan peningkatan kualitas pascapanen dan pengenalan standar mutu kopi.
AMMAN secara berkelanjutan melakukan intervensi terhadap keberlanjutan ekosistem Kopi Rarak mulai dari hulu hingga ke hilir. Di sisi hulu, pendampingan dilakukan mulai dari pengenalan praktik budidaya kopi yang lebih baik, pengembangan demplot kopi Robusta unggul, introduksi bibit unggul, serta penanaman pohon penaung untuk mendukung sistem agroforestri. Program ini diharapkan dapat membantu petani menjaga produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan lahan dalam jangka panjang.
Sementara di sisi hilir, pendampingan diarahkan pada peningkatan kualitas pascapanen, pengenalan standar mutu kopi, penguatan kemasan, branding, dan pemasaran. Dengan demikian, kualitas produk tidak hanya dijaga dari sisi bahan baku, tetapi juga dari cara pengolahan, penyajian, dan pengemasannya agar lebih konsisten serta lebih siap menjangkau pasar yang lebih luas.
“AMMAN mendukung keberlanjutan produk kopi khas Rarak Ronges melalui penguatan kapasitas di hulu hingga hilir,” kata Aji Suryanto.
Melalui berbagai program pendampingan yang dilakukan, AMMAN berharap agar Kopi Kawarama dapat terus tumbuh menjadi UMKM yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. AMMAN ingin agar produk-produk lokal seperti Kopi Kawarama tidak hanya berkembang dari sisi penjualan, tetapi juga semakin kuat dari sisi kualitas, tata kelola usaha, konsistensi pasokan, branding, serta kesiapan masuk ke pasar yang lebih luas hingga ke kancah internasional.
Lebih dari itu, pengembangan UMKM seperti Kopi Kawarama juga sejalan dengan tujuan AMMAN dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Dorong UMKM Lokal Terus Berkembang
Secara umum, AMMAN terus mendorong UMKM lokal untuk tersebut berkembang sebagai upaya menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Khusus di Sumbawa Barat, pendampingan terhadap UMKM yang dilakukan melalui pendekatan peningkatan kapasitas usaha. Intervensinya mencakup pelatihan dan pendampingan dalam aspek branding, kemasan, pemasaran, pengelolaan usaha, literasi keuangan, penguatan legalitas, hingga dukungan untuk membuka akses pasar.
Untuk pengembangan UMKM di Sumbawa Barat, AMMAN pernah berkolaborasi dengan mitra pelaksana program Narasa Indonesia melalui Program SILARASA, yang mencakup pelatihan, pendampingan, pengembangan bisnis, dan branding bagi UMKM serta pemuda di Kabupaten Sumbawa Barat.
Program ini mencatat berbagai capaian seperti sertifikasi produk, kerja sama point-of-sales, re-branding, pertumbuhan omzet, pendaftaran kekayaan intelektual, dan legalitas bisnis.
AMMAN berharap, melalui berbagai program pendampingan yang dilakukan, UMKM lokal dapat terus berkembang, membuka peluang kerja, memperkuat rantai ekonomi lokal, serta menjadi bagian dari diversifikasi ekonomi daerah yang berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan pilar Economic Empowerment (Pemberdayaan Ekonomi) dalam Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN, yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro dan kecil agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, diversifikasi produk, pengembangan sektor usaha, dan kemandirian komunitas. (KS)









