iklan caleg
Ekonomi

Kadindi Menangkap Berkah dari Kawasan Tebu Dompu

Avatar photo
×

Kadindi Menangkap Berkah dari Kawasan Tebu Dompu

Sebarkan artikel ini

Hasil Pertanian Warga Kini Punya Pasar Lebih Dekat

Kabupaten Dompu, Kabarsumbawa.com – Pagi di Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, dimulai dari hijaunya hamparan luas lahan-lahan pertanian. Sebagian warga menanam sayur-mayur, jagung, padi, hingga jambu mete. Komoditas itu menjadi sumber penghidupan masyarakat sekaligus menopang kebutuhan pangan di kawasan sekitar.

Desa Kadindi awalnya memang bukan sentra tanaman tebu di Pekat. Kondisi lahan dan ketersediaan air membuat sebagian besar petani memilih komoditas yang lebih sesuai dengan karakteristik alam di wilayah itu.

Kepala Desa Kadindi Doriwanto mengatakan, pertanian masyarakat setempat selama ini didominasi sayur-mayur dan jambu mete. Padi hanya ditanam sekali dalam setahun karena keterbatasan pola tanam.

“Kalau yang paling banyak di desa kami adalah pertanian mete dan sayur-mayur,” kata Doriwanto.

Jika di sejumlah wilayah Pekat mengalami kesulitan air, ketersediaan air di Desa Kadindi relatif mencukupi. Masyarakat masih mengandalkan sumber air pegunungan untuk memenuhi kebutuhan aktifitas pertanian.

Kondisi tersebut berbeda dengan lahan yang dinilai lebih cocok untuk tanaman tebu. Menurut Doriwanto, tebu lebih memungkinkan dikembangkan di lahan kering atau kebun yang sudah kurang produktif.

Di tengah perkembangan kawasan tebu di Kecamatan Pekat, Desa Kadindi memutuskan menangkap peluang dari sisi lain. Walau sejauh ini bukan sebagai wilayah pemasok tebu, melainkan sebagai penyangga pangan bagi pekerja perusahaan tebu yakni PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.

Doriwanto menyebut keberadaan perusahaan dan bertambahnya aktivitas di kawasan sekitar ikut menciptakan pasar baru bagi hasil pertanian warga desanya.

“Daripada menunggu sayur-mayur datang dari Lombok, Dompu atau Bima, lebih baik petani kita yang menanam dan menyediakan kebutuhan tersebut. Pasarnya juga sudah ada di sekitar desa,” ujarnya.

Pedagang yang memasok kebutuhan ke kawasan perusahaan mengambil sebagian barang dari petani Desa Kadindi. Sayur-mayur yang dihasilkan warga kemudian masuk ke pasar sekitar, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pekerja.

Kehadiran satuan TNI di kawasan Pekat juga dinilai menambah peluang pasar. Kebutuhan konsumsi yang cukup besar membuat hasil pertanian warga memiliki pasar yang lebih dekat.

Dengan kondisi masyarakat yang majemuk, kemampuan bertani warga juga beragam. Ada masyarakat asal Lombok, Bima, Dompu, hingga Bali yang membawa pengalaman dan keterampilan masing-masing.

Kondisi itu ikut menopang aktivitas ekonomi desa. Doriwanto menyebut pendapatan masyarakat mengalami peningkatan seiring terbukanya pasar bagi produk pertanian.

“Alhamdulillah, adanya pasar bagi pertanian kami membuat pendapatan masyarakat meningkat. Kebutuhan dasar rumah tangga juga sudah terpenuhi,” katanya.

Menurut dia, aktivitas ekonomi warga tidak hanya bergantung pada pertanian. Sejumlah anak muda mulai membuka usaha, mulai dari bengkel hingga UMKM. Lapangan pekerjaan juga tersedia bagi warga yang mau bekerja di sektor pertanian maupun usaha lainnya.

Desa Kadindi saat ini memiliki sekitar 1.600 hingga 1.700 kepala keluarga. Desa tersebut sebelumnya merupakan satu wilayah dengan Kadindi Barat sebelum dilakukan pemekaran.

Meski tidak menanam tebu dalam skala luas, Doriwanto melihat perkembangan industri tebu di Dompu membawa peluang bagi masyarakat sekitar.

Ia menilai, dengan ketersediaan air dan keragaman keterampilan petani, Kadindi bukan tidak mungkin berkembang sebagai lahan pertanian baru yang menyangga kawasan tebu di Pekat. Jika desa-desa lain menjadi pemasok bahan baku tebu, Kadindi dapat tumbuh sebagai sentra sayur-mayur dan pangan pendukung bahkan jika memungkinkan juga bisa ditanami tebu.

“Harapan kami dari tebu ini ada perubahan yang lebih baik, membawa ke arah kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Pekat pada umumnya maupun Desa Kadindi,” ujarnya.

Doriwanto juga berharap perkembangan komoditas tebu diikuti perbaikan harga bagi petani. Di sisi lain, ia mengakui bahwa keberadaan pabrik pengolahan tebu di Pekat dinilai telah memberikan manfaat melalui aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan.

Bagi Desa Kadindi, dampak pengembangan kawasan tebu tidak harus selalu diukur dari luas lahan tebu. Perputaran ekonomi di sekitar kawasan juga membuka ruang bagi komoditas lain.

Sayur-mayur, misalnya, mendapat pasar dari kebutuhan pekerja. Petani tidak harus membawa hasil panen jauh keluar daerah untuk mencari pembeli.

Di balik peluang tersebut, pertanian Desa Kadindi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya karakter tanah yang poros sehingga kebutuhan air untuk pertanian cukup tinggi.

Namun, tingginya pengalaman bertani membuat petani mampu menyiasati kondisi tersebut. Doriwanto menilai persoalan air masih dapat diatasi dengan pola pertanian yang selama ini diterapkan secara efektif oleh masyarakat.

Ia berharap dukungan pemerintah tetap diperkuat, terutama melalui penyuluhan dan peningkatan kapasitas petani.

“Harapan kami pemerintah melalui dinas pertanian kabupaten konsistenlah terus memberikan penyuluhan untuk meningkatkan sumber daya dan kapasitas petani,” katanya.

Penyuluhan tersebut antara lain berkaitan dengan pola tanam dan pengaturan musim tanam. Karena dengan pola yang lebih baik, produktivitas pertanian diharapkan semakin meningkat.

Untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat, pemerintah desa juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Jarak Desa Kadindi yang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Dompu tidak menjadi alasan untuk menghentikan komunikasi.

Koordinasi dilakukan melalui dinas terkait maupun wakil masyarakat Pekat di DPRD Kabupaten Dompu. Kebutuhannya mencakup perbaikan sarana dan prasarana pertanian hingga dukungan alat-alat pertanian.

Bagi Doriwanto, perkembangan kawasan tebu merupakan bagian dari dinamika ekonomi baru di wilayah Pekat. Desa Kadindi tidak berada di tengah perkebunan tebu, tetapi ikut merasakan denyut aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Pada akhirnya, peluang itu kembali kepada kemampuan masyarakat dalam menangkap pasar. Ketika kebutuhan pangan pekerja dan aktivitas ekonomi terus tumbuh, petani Kadindi memiliki ruang untuk memasok dari lahan sendiri.

Tebu mungkin bukan tanaman utama di Kadindi. Namun, perkembangan kawasan tebu membuka pasar baru yang membuat hasil pertanian warga tetap memiliki tempat, bahkan membuka peluang Kadindi menjadi lumbung pangan baru di tengah perubahan ekonomi Dompu. (KS)

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *