SIAP! Upaya Pendampingan Penyuluh Pertanian Terhadap Dampak El Nino

Date:

Oleh : Herlina, SP – Mahasiswa Magister Manajemen Inovasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Teknologi Sumbawa

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com Saat ini indonesia sedang mengalami fenomena iklim el nino yaitu musim kemarau ekstrim yang menyebabkan kekeringan dan suhu panas berkepanjangan. Beberapa wilayah yang terdampak secara signifikan di antaranya adalah Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Banten, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Fenomena iklim ini sangat mempengaruhi bidang pertanian, mengganggu pertanaman petani sehingga mengalami gagal tanam maupun gagal panen. Kekeringan dapat menyebabkan tanaman kekurangan air sehingga menghambat pertumbuhannya, dan mengurangi hasil panen. Perubahan kondisi cuaca yang signifikan sangat disukai oleh beberapa hama dan penyakit tanaman sehingga serangannya menjadi cukup masif.

Gangguan musim tanam dapat menyebabkan penundaan waktu penanaman tanaman, penurunan luas tanam bahkan kegagalan panen. Secara umum, hal ini tentu saja dapat mempengaruhi kestabilan pasar, karena kegagalan panen dapat mengurangi pasokan kemudian menyebabkan kenaikan harga dan ketidakstabilan pasokan dan permintaan pasar.

Menghadapi fenomena ini perhatian pemerintah terhadap dunia pertanian semakin ditingkatkan melalui Gerakan Nasional Penanganan Dampak El Nino. Inovasi-inovasi yang dilakukan yaitu meningkatkan produksi tanaman pangan seperti tanaman padi dan jagung, serta menurunkan biaya produksi. Inovasi di bidang budidaya tanaman antara lain penggunaan varietas yang tahan pada lahan kering, mendorong percepatan tanam dengan tumpang sari, meningkatkan mekanisasi pertanian seperti pemanfaatan pompa air di wilayah rentan kekeringan serta penggunaan traktor untuk mempercepat pengolahan lahan.

Selain itu, guna meminimalisir resiko-resiko atau kerugian petani dalam kegiatan usaha taninya yang timbul dampak dari El nino, pemerintah melaksanakan program peningkatan anggaran subsidi premi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Pemerintah ikut turun tangan untuk mengurangi risiko gagal panen. Keikutsertaan petani dalam program Asuransi Tani Padi dapat menjadi alternatif sumber modal yang akan melindungi pesertanya agar dapat kembali membiayai usaha pertaniannya di musim berikutnya apabila terjadi hal yang tidak dinginkan selama proses bercocok tanam.

Pembayaran premi AUTP sebesar Rp. 180.000 per hektar, mendapatkan subsidi dari pemerintah Pusat sebesar 80% yakni Rp. 144.000 per hektar sehingga petani hanya dibebani sebesar Rp. 36.000 per hektar saja. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memanfaatkan hal ini menjadi inovasi sebagai serangkaian strategi untuk meringankan beban petani dan melindungi usaha tani masyarakatnya dengan membayarkan sisa premi tersebut, sehingga petani Sumbawa Barat tidak perlu membayar premi AUTP.

Petani Sumbawa Barat tidak perlu khawatir lagi untuk menanam padi. Setiap petani yang terdaftar sebagai peserta AUTP akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp. 6.000.000 per hektar ketika mengalami gagal tanam atau gagal panen dengan kriteria yang telah ditentukan.

Untuk menyukseskan program ini, penyuluh pertanian menjadi garda terdepan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku serta keputusan petani dalam menerima informasi atau teknologi baru. Penyuluh pertanian sebagai jembatan antara pemerintah dan petani melakukan inovasi melalui kegiatan penyuluhan di lapangan agar petani bersedia berpartisipasi dalam program AUTP.

Namun, terjadi kendala yang di keluhkan oleh Dinas Pertanian di seluruh Indonesia mengenai kesulitan penyajian data, kesulitan pendaftaran AUTP, serta kesulitan monitoring pelaksanaan asuransi ini. Oleh karena itu Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Jasindo meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP). Aplikasi SIAP mendukung pertanian 4.0 hadir untuk meningkatkan pelayanan dengan mempermudah sistem serta pendaftaran maupun klaim AUTP. Sebagai pendamping dan sahabat petani, masing-masing PPL WKPP kembali dilibatkan untuk berinovasi sebagai Petugas Pengumpul dan Pengolah Data AUTP Kegiatan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Tanaman Pangan Hortikulturan dan Perkebunan di tingkat desa/kelurahan.

Berdasarkan laporan BPP Kec. Taliwang, sebanyak 107 kelompok tani di Kecamatan Taliwang dengan luasan total 1.227,43 Ha telah didaftarkan oleh Penyuluh Pertanian melalui aplikasi SIAP.

Dalam menghadapi dampak El Nino di bidang pertanian, Penyuluh Pertanian Lapangan senantiasa mendampingi petani dalam menjembatani kesenjangan inovasi dan penerapannya di tingkat petani. Penyuluh Pertanian Lapangan tidak hanya membantu mengedukasi petani, melainkan juga memfasilitasi petani berpartisipasi dalam program-program pemerintah menuju pertanian berkelanjutan. (KS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

iklan DPRD iklan caleg

Populer

More like this
Related

KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI MERUBAH CARA BERPIKIR GENERASI MUDA

Oleh : Ahmad Jasum - Mahasiswa Manajemen Inovasi Pascasarjana Universitas...

DISIPLIN POSITIF MULAI DARI RUMAH HINGGA KE SEKOLAH

Penulis : Nasruddin, S.HI - Mahasiswa Program Pascasarjana Manajemen...

PERAN GURU UNTUK SISWA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI

Oleh : Riska Harmelia – Mahasiswa Semester III Pendidikan...

Problem Based Blended Learning sebagai Bentuk Implementasi Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Oleh : Fahmi Yahya - Dosen Pendidikan Fisika Universitas Samawa, Mahasiswa...