Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Kesehatan (Dikes) menaruh perhatian serius terhadap isu kesehatan jiwa di wilayahnya. Sebagai langkah nyata, Pemda mendorong penanganan terpadu serta penyediaan rumah singgah khusus bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pemenuhan hak pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat Sumbawa tanpa terkecuali.
“Langkah ini kami lakukan sebagai upaya pemenuhan hak kesehatan bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Sumbawa, termasuk ODGJ,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat, melalui Kabid Kesehatan Masyarakat, dr. Abadi Abdullah, Selasa (01/09).
Menurut dr. Abadi, kesehatan jiwa memiliki keterkaitan erat dengan kondisi fisik seseorang. Stres atau gangguan jiwa yang tidak tertangani dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu komplikasi penyakit lainnya.
“Gangguan kesehatan jiwa bukan kondisi yang tidak dapat ditangani. Dengan penanganan yang tepat dan berkelanjutan, mereka memiliki peluang besar untuk sembuh dan kembali produktif,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Sumbawa, saat ini tercatat sebanyak 1.069 ODGJ berat yang tersebar di 24 kecamatan. Seluruhnya telah berada dalam pengawasan tenaga kesehatan puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan berkala.
Selain itu, terdapat 1.425 warga yang terdata mengalami gangguan jiwa ringan hingga sedang, seperti depresi dan kecemasan.
“Kondisi ini perlu perhatian serius. Gangguan jiwa ringan yang dibiarkan tanpa penanganan medis yang baik berpotensi berkembang menjadi gangguan jiwa berat,” jelas dr. Abadi.
Masalah kesehatan jiwa di Sumbawa juga berdampak pada maraknya kasus bunuh diri dan tindakan pemasungan. Sepanjang tahun 2023 hingga 2025, tercatat ada 9 kasus bunuh diri. Sementara pada tahun 2026, sudah ditemukan 2 kasus.
Tak hanya itu, praktik pemasungan terhadap ODGJ masih menjadi tantangan besar bagi Pemda Sumbawa.
“Saat ini tercatat ada 12 kasus pasung di Kabupaten Sumbawa. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB),” ungkapnya.
Melihat tingginya angka penanganan kasus tersebut, Dinkes Sumbawa menilai keberadaan Rumah Singgah ODGJ sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak demi memperkuat pelayanan dan keberlanjutan perawatan para pasien. (KS)









