iklan caleg
EkonomiPendidikan

AMMAN Hadirkan Literasi AI Berstandar Reguional ASEAN ke NTB

Avatar photo
×

AMMAN Hadirkan Literasi AI Berstandar Reguional ASEAN ke NTB

Sebarkan artikel ini
Pelaksanaan Program AI Ready ASEAN di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS)

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com –  PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) berhasil menhadirkan literasi kecerdasan buatan (AI) berstandar regional ASEAN ke Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui pelaksanaan Program AI Ready ASEAN. Kebarhasilan tersebut, menjadi bagian kolaborasi PT AMMAN dengan organisasi dan institusi internasional seperti ASEAN Foundation dan Google.org.

AI Ready ASEAN merupakan inisiatif literasi kecerdasan buatan (AI) yang digagas dan didanai secara global oleh Google.org. Di wilayah regional ASEAN, inisiatif ini dimandatkan kepada ASEAN Foundation. Program yang diluncurkan pada Oktober 2024 ini,menargetkan pembekalan keterampilan dasar AI bagi 5,5 juta masyarakat di sepuluh negara anggota ASEAN, dengan sasaran utama generasi muda, pendidik, orang tua, dan komunitas yang selama ini kurang terlayani akses teknologi.

Di Indonesia, program ini dijalankan Kaizen Collaborative Impact sebagai mitra pelaksana lokal, yang hingga pertengahan 2026 telah menjangkau lebih dari 100 institusi pendidikan di berbagai provinsi, mulai dari Sulawesi hingga Papua Barat.

Pelaksanaan Program AI Ready ASEAN di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) pada 12–13 Agustus 2026 ini, menjadi buah dari komitmen kuat kerjasama antara dunia industri dengan dunia akademis yang telah dijalin oleh AMMAN dan UTS dalam rangka demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di NTB.

Pelatihan di UTS mengikuti kurikulum AI Ready ASEAN yang terbagi ke dalam empat kategori kompetensi diantaranya, AI Fundamental (pengenalan konsep dan ragam AI), AI Usage & Implementation (teknik prompting untuk efektivitas dan produktivitas dalam penggunaan AI), Scam Ready ASEAN & Digital Safety (literasi anti-hoaks dan keamanan data), serta Ethics and Privacy in AI Use (etika dan hak cipta).

Sebagai keberlanjutan, ASEAN Foundation akan melakukan serah terima modul pelatihan dan dilanjutkan dengan Training of Trainers (ToT) kepada perwakilan UTS, agar literasi dan kesiapan AI dapat terus ditingkatkan dan semakin dipergunakan secara bijak.

Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto mengatakan, literasi AI menjadi kebutuhan karena teknologi tersebut kini sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk mahasiswa dan tenaga pendidik. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Ia menekankan pentingnya menjaga kemampuan manusia dalam berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah meski pekerjaan sehari-hari semakin banyak dibantu teknologi AI.

““AI untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikan. Jangan sampai kita semakin tergantung dengan AI sehingga menganggap AI bukan lagi asisten yang membantu kita, tetapi kita betul-betul bergantung kepada AI,” katanya.

Aji menjelaskan, AMMAN tidak ingin pelatihan berhenti pada kegiatan dua hari di UTS. Program tersebut akan dilanjutkan dengan skema Training of Trainers (ToT) sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta dapat ditularkan lebih luas.

Program AI Ready ASEAN di NTB sendiri direncanakan berlangsung di tiga perguruan tinggi. UTS menjadi lokasi pembuka, kemudian dilanjutkan di Universitas Undova di Kabupaten Sumbawa Barat dan ditutup di Universitas Mataram (Unram).

“Pelatihan ini tidak berhenti di workshop ini saja. Kami juga melakukan training of trainer agar literasi ini bisa diperluas ke masyarakat dan sekolah-sekolah sekitar,” jelasnya.

Aji mengatakan kolaborasi dengan ASEAN Foundation juga membuka peluang lebih luas bagi perguruan tinggi lokal untuk terhubung dengan berbagai program berskala global.

“Universitas sebagai poros utama akademika dan ilmu pengetahuan diharapkan mendapatkan kesempatan memperoleh ilmu secara internasional,” katanya.

Aji menambahkan, pemanfaatan AI juga mulai dikembangkan di lingkungan AMMAN sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan. AMMAN kini tidak hanya bergerak pada aktivitas pertambangan, tetapi telah mengintegrasikan berbagai proses dari hulu hingga hilir. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan teknologi, termasuk AI, semakin penting dalam pengelolaan data dan pengambilan keputusan.

Dalam proses pertambangan, teknologi tersebut antara lain dapat membantu meningkatkan efisiensi dan akurasi proses, termasuk dalam mendukung upaya meningkatkan recovery. Namun, Aji menegaskan keputusan akhir tetap membutuhkan pengawasan dan pertimbangan manusia.

 

“Sejumlah departemen mulai menginisiasi penggunaan AI untuk mendukung pekerjaan, baik di sektor proses pertambangan maupun fungsi pendukung seperti teknologi informasi, supply chain management, dan keuangan. Teknologi ini sangat membantu mempercepat pekerjaan dan pengambilan keputusan, walaupun tetap harus disupervisi oleh manusia,” jelasnya.

Sementara itu, Trainer Kaizen, Rizqika Alya Anwar menjelaskan, AI Ready ASEAN merupakan bentuk tanggung jawab untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai penggunaan AI yang aman, bijak, dan bertanggung jawab.Kaizen Collaborative Impact merupakan salah satu mitra lokal yang ditunjuk ASEAN Foundation untuk melaksanakan program tersebut di Indonesia.

Menurut Rizqika, program AI Ready ASEAN lahir dari keresahan terhadap semakin masifnya penggunaan AI, sementara pemahaman masyarakat mengenai batasan dan risiko teknologi tersebut belum merata.

“Harapannya, 5,5 juta masyarakat di ASEAN bisa lebih terliterasi dan menggunakan AI secara bertanggung jawab dan bijak,” katanya.

Khusus pelatihan di UTS, materi diberikan selama dua hari dalam empat sesi. Selain pemahaman fundamental dan keterampilan penggunaan AI, peserta juga dikenalkan dengan sejumlah perangkat AI yang dapat dimanfaatkan civitas akademika. Hari kedua difokuskan pada etika penggunaan AI, keamanan digital, serta materi Scam Ready ASEAN.

Rizqika mengatakan pemahaman mengenai AI tidak cukup hanya sebatas kemampuan memberikan perintah atau prompt kepada teknologi tersebut. Masyarakat juga perlu memahami tanggung jawab serta perkembangan AI yang kini mulai mengarah pada penggunaan AI agent.

“AI bukan hanya bisa menjadi asisten, tetapi sekarang juga bisa menjadi AI agent yang dapat melakukan pekerjaan secara otomatis. Karena itu, pemahaman fundamental dan tanggung jawab dalam menggunakan AI menjadi penting,” jelasnya.

Rektor UTS yang diwakili Wakil Rektor IV UTS, Muhammad Iqbal, M.M.Inov, menyambut baik pelaksanaan AI Ready ASEAN di lingkungan kampus. Menurutnya, kehadiran program tersebut menjadi momentum penting bagi civitas akademika UTS untuk memahami perkembangan AI sekaligus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkannya secara tepat.

Ia menilai perkembangan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta pemahaman terhadap etika dan keamanan digital. Dengan demikian, mahasiswa maupun dosen tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran, penelitian, maupun pengembangan inovasi.

Ia berharap, kerja sama UTS dengan AMMAN, ASEAN Foundation, dan para mitra lainnya dapat terus berkembang sehingga manfaat literasi AI tidak hanya dirasakan oleh 100 peserta pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada civitas akademika dan masyarakat yang lebih luas.

Ia juga menilai program Training of Trainers (ToT) menjadi langkah strategis untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan UTS.

Untuk diketahui, dalam rangkaian pembukaan pelatihan, AMMAN dan UTS juga menandatangani Kesepakatan Bersama tentang Kerja Sama Program Pendidikan, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kemahasiswaan. Kerja sama tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi antara dunia industri dan perguruan tinggi dalam pengembangan sumber daya manusia di NTB. (KS)

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *