iklan caleg
KesehatanPolitik & Pemerintahan

Persoalan Asmara Picu Tingginya Kasus ODGJ di Sumbawa

Avatar photo
×

Persoalan Asmara Picu Tingginya Kasus ODGJ di Sumbawa

Sebarkan artikel ini
dr. Abadi Abdullah

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa mencatat kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) cukup memprihatinkan. Selain faktor penggunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza), persoalan asmara seperti putus cinta menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya gangguan kesehatan mental masyarakat di wilayah setempat.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Abadi Abdullah, kepada wartawan Senin (12/10/2026) kemarin.

Ia menyebutkan, hingga saat ini tercatat ada 1.428 kasus ODGJ di Kabupaten Sumbawa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.080 kasus masuk dalam kategori Gangguan Jiwa Berat (ODGJB).

“Angka ODGJ kita meningkat itu karena salah satunya Napza dan putus cinta. Asmara paling banyak. Kayak contoh kemarin di wilayah barat ditinggal pasangannya kawin lagi, nah itu penyebabnya. Dan sebagian besar laki-laki yang banyak kena gangguan jiwa karena asmara ini,” ujar dr. Abadi kepada media.

Terhadap kondisi tersebut lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah menyiapkan langkah konkrit. Pemerintah tengah menyiapkan Rumah Singgah ODGJ yang bertujuan untuk menjamin keberlangsungan pengobatan dan rehabilitasi para pasien.

dr. Abadi menjelaskan, Rumah Singgah ODGJ tersebut saat ini sedang dalam proses pembangunan dengan memanfaatkan lokasi eks Puskesmas Buer. Pemilihan lokasi ini dinilai ideal karena memiliki fasilitas pendukung yang memadai.

“Di sana ada lapangan luas dan tempat ibadah, sehingga kebutuhan pengobatan jasmani dan rohaninya bisa dilengkapi. Di rumah singgah ini nanti kita akan berikan rehabilitasi, pengobatannya kita jamin. Ketika pasien sudah mandiri tanpa kontrol orang lain untuk minum obat, baru kita pulangkan,” terangnya.

Menurutnya, untuk tahap awal penanganan di rumah singgah tersebut, pihak dinas akan memprioritaskan penanganan kasus ODGJ yang sedang pasung. Mengingat, angka penderita ODGJ pasung di Kabupaten Sumbawa tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Target awal kita akan layani yang pasung dulu, karena angka pasung kita paling tinggi di NTB ada 12 kasus. Saat ini sudah lepas 2 kasus, sehingga sisa 10 kasus lagi,” jelasnya.

Selain itu sambungnya, Dikes Sumbawa juga menyiapkan langkah pencegahan, khususnya untuk menekan kasus gangguan jiwa yang dipicu oleh persoalan asmara dan kesehatan mental usia muda.

Salah satu inovasi yang digulirkan adalah program Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis. Program ini menyasar kelompok remaja di tingkat sekolah menengah.

“Untuk yang pemicunya karena asmara, kami di Dinas Kesehatan sedang memulai program bernama Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis. Bahan percontohannya kami ambil di jenjang SMP, karena usia ini beririsan langsung dengan masa perlindungan anak,” tambah dr. Abadi.

Melalui program ini, para siswa akan dibekali pelatihan khusus agar memiliki kepekaan dan pemahaman dasar mengenai kesehatan mental.

Harapannya, mereka mampu menjadi pendengar serta memberikan bantuan awal kepada sesama teman sebaya yang sedang mengalami masalah psikologis.

“Di situ nanti temannya sendiri yang kita berikan pelatihan, sehingga mereka bisa membantu temannya ketika ada persoalan psikologis,” pungkasnya. (KS)

iklan caleg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *