Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Sebagai perusahaan tambang terbesar di Indonesia, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) terus berkomitmen memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan keunggulan operasional sekaligus mendukung praktik yang semakin modern, aman, dan berkelanjutan.
Berbagai inovasi teknologi telah diterapkan oleh AMMAN dalam pengolahan mineral di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Transformasi teknologi yang diterapkan dalam pengolahan mineral mencakup pengintegrasian kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sistem pemindaian mineral dengan Laser 3D, hingga sistem kimia terapan dari talenta lokal yang diakui dunia.
AIDA : Kecerdasan Buatan Optimalkan Perolehan Mineral
Bagi industri pertambangan, peningkatan kecil dalam tingkat perolehan mineral (mineral recovery) dapat memberikan dampak yang sangat besar. Selain meningkatkan nilai ekonomi, setiap persen tambahan recovery juga berarti semakin banyak sumber daya alam yang dimanfaatkan secara optimal dan semakin sedikit mineral berharga yang terbuang. Dengan karakteristik bijih yang semakin kompleks serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik pertambangan berkelanjutan, mengoptimalkan perolehan mineral menjadi salah satu tantangan sekaligus prioritas utama industri.
Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA) menjadi jawaban dari persoalan tersebut. Sebuah sistem pendukung keputusan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membantu mengoptimalkan proses pengolahan mineral di pabrik pengolahan (processing plant). Peningkatan mineral recovery tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi perusahaan, tetapi juga memperkuat upaya konservasi mineral. Semakin banyak logam berharga yang berhasil dipulihkan, semakin sedikit kandungan mineral yang berakhir di tailings.
“Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alam menjadi lebih efisien sekaligus mendukung praktik pertambangan yang semakin bertanggung jawab,” kata Vice President Corporate Communication AMMAN, Kartika Octaviana.
Di dalam sistem kecerdasan buatan (AIDA) yang dibuat oleh AMMAN tersimpan data historis berupa catatan kerja, pengalaman, dan data pabrik selama lebih dari 25 tahun ke belakang. Data inilah yang menjadi acuan dari sistem tersebut.
Dari inovasi tersebut, AMMAN mengembangkan sebuah sistem pendukung keputusan yang mampu menganalisis kondisi operasi secara berkelanjutan dan memberikan rekomendasi parameter proses yang paling optimal untuk memaksimalkan mineral recovery. Melalui fitur Set Point Optimizer, AIDA memberikan rekomendasi penyesuaian berbagai parameter penting, seperti dosis reagen dan laju aliran air, sehingga proses pengolahan dapat berjalan dengan lebih efisien dan menghasilkan tingkat recovery yang lebih tinggi.
“Jika sebelumnya para metalurgis harus menganalisis ribuan data yang terus berubah secara manual, kini AIDA membantu menyaring informasi yang paling relevan dan menyajikan rekomendasi yang dapat segera ditindaklanjuti oleh tim operasi. AIDA membantu operator mengambil keputusan yang lebih cepat, lebih tepat, dan berbasis data,” jelas Kartika Octaviana.
Meski demikian, AIDA tidak dirancang untuk menggantikan manusia. Sebaliknya, teknologi ini hadir untuk memperkuat pengambilan keputusan melalui kolaborasi antara kecerdasan buatan dan pengalaman para ahli di lapangan.
Pengembangan AIDA tidak berhenti pada pembangunan model AI. AMMAN juga melakukan peninjauan dan penyempurnaan menyeluruh terhadap proses pengolahan mineral untuk memastikan sensor, instrumen, dan sistem pengumpulan data mampu menghasilkan informasi yang akurat, andal, dan berkualitas tinggi.
Melalui kombinasi penyempurnaan proses dan optimalisasi berbasis AI, AMMAN berhasil meningkatkan mineral recovery sekitar 2,5%—sebuah pencapaian yang sangat signifikan bagi operasi sebesar Batu Hijau yang selama ini telah memiliki tingkat recovery terbaik di kelasnya.
Dalam operasi pertambangan berskala besar, peningkatan recovery beberapa persen saja dapat menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar, sekaligus mengurangi kandungan logam berharga yang masih tertinggal di tailings. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi digital mampu menciptakan manfaat sekaligus dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan.
“AMMAN membuktikan bahwa transformasi digital bukan sekadar mengadopsi teknologi terbaru. AMMAN berhasil memadukan kecerdasan buatan dan keahlian manusia, AMMAN terus memperkuat daya saing operasional sekaligus mendukung masa depan industri pertambangan Indonesia yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah,” ujar Kartika.
Menjaga Kelancaran Pengolahan Mineral Lewat Teknologi Laser 3D
Setiap hari, hampir 100.000 ton bijih hasil penambangan mengalir menuju pabrik pengolahan (processing plant) tambang Batu Hijau yang dioperasikan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Di balik proses besar tersebut, terdapat satu hal yang menjadi kunci keberhasilan operasional: memastikan setiap material yang masuk ke pabrik dapat diproses dengan aman, lancar, dan efisien.
Di setiap aliran material yang bergerak melalui ban berjalan (conveyor) menuju SAG Mill, tidak luput dari pantauan Victor, Achmad, dan tim Metalurgi AMMAN. Namun, di antara aliran bijih tersebut, terkadang terdapat objek berukuran ekstrem (oversize objects) atau material asing non-batuan yang ikut terbawa dari area tambang. Jika tidak terdeteksi lebih awal, material tersebut berpotensi mengganggu aliran bijih menuju SAG Mill dan memengaruhi kelancaran proses pengolahan.
“Sebelumnya, pemantauan aliran material mengandalkan sistem kamera dua dimensi (2D). Meski efektif, sistem ini memiliki keterbatasan visual dalam membedakan objek ketika kondisi pencahayaan berubah atau ketika material memiliki warna dan tekstur yang serupa,” jelas Kartika Octaviana.
Menjawab tantangan tersebut, tim AMMAN mengembangkan pendekatan yang lebih presisi melalui penerapan teknologi 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis laser triangulation. Teknologi ini dipasang di jalur conveyor sebelum material memasuki SAG Mill. Dengan memanfaatkan pemindaian laser tiga dimensi secara langsung, sistem mampu mengukur bentuk, ukuran, dan volume objek secara lebih akurat dibandingkan metode konvensional. Hasilnya, objek yang berpotensi mengganggu proses dapat teridentifikasi lebih dini sehingga operator memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tindakan pencegahan.
Penerapan teknologi 3DPM memberikan visibilitas yang lebih baik bagi operator dalam memantau kondisi material yang masuk ke pabrik. Informasi yang lebih akurat memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus membantu mengurangi potensi gangguan operasional.
Selain meningkatkan keandalan proses, teknologi ini juga mendukung kelancaran aliran material di pabrik pengolahan sehingga ritme produksi dapat terjaga lebih konsisten.
Inovasi ini merupakan contoh nyata bagaimana budaya perusahaan mendorong karyawan untuk terus mencari solusi yang relevan dengan tantangan operasional sehari-hari. AMMAN tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi juga mengembangkannya agar sesuai dengan kondisi operasional kami. Hasilnya adalah proses yang lebih andal, efisien, dan mampu mendukung pengelolaan risiko operasional yang lebih baik.
“Inovasi ini menjadi salah satu contoh komitmen AMMAN dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keunggulan operasional sekaligus mendukung praktik pertambangan yang semakin modern, aman, dan berkelanjutan,” terangnya.
Inovasi Lokal Diakui Global
Berbagai inovasi pengolahan mineral yang diciptakan oleh AMMAN merupakan buah tangan dari talenta lokal yang telah diakui oleh dunia. Inovasi tersebut merupakan hasil kerja keras Didit bersama rekannya sebagai tim Metallurgy di Processing Plant tambang Batu Hijau. Didit sendiri merupakan putra daerah asli Kabupaten Sumbawa Barat. Ia berhasil memimpin tim tersebut menciptakan solusi untuk meningkatkan perolehan tembaga (recovery).
Inovasi yang telah diakui dunia tersebut dilatarbelakangi berbagai persoalan mendasar dalam mengelola bijih mineral. Tim Metallurgy AMMAN mengolah bijih mineral dari hasil penambangan langsung maupun dari stockpile. Masalah muncul saat mengolah bijih dari stockpile karena bijih tersebut mengalami oksidasi.
Kondisi ini menyebabkan tingkat perolehan (recovery) tembaga cenderung menurun ketika diproses di pabrik flotasi (proses pemisahan tembaga). Jika dibiarkan, penurunan recovery ini berisiko menggerus nilai ekonomi dari bijih stockpile tersebut serta membuang lebih banyak kandungan tembaga sebagai limbah (tailing).
Untuk mengatasi masalah oksidasi bijih stockpile tersebut, tim menciptakan inovasi dengan menerapkan Controlled Potential Sulfidisation (CPS) yang dipadukan dengan teknologi sensor Oxidation Reduction Potential (ORP) secara real-time. Inovasi ini berhasil meningkatkan recovery tembaga secara signifikan sekaligus menekan konsumsi bahan kimia hingga 18,3%.
Keberhasilan inovasi ini dituliskan dalam sebuah karya ilmiah yang dipresentasikan di MetPlant 2026 yang berlangsung di Adelaide, Australia. MetPlant merupakan salah satu konferensi metalurgi bergengsi di dunia pengolahan mineral, tempat para pakar global berkumpul untuk bertukar informasi dan praktik terbaik dalam desain dan operasi pabrik mineral.
Didit dan rekan-rekannya yang mewakili AMMAN mendapatkan pengakuan luar biasa, di mana karya ilmiah tersebut mendapat penghargaan ‘Best Paper’. Hal ini membuktikan bahwa kualitas inovasi dari tanah dan putra Sumbawa Barat diakui dengan sangat baik di level internasional.
“Perusahaan memberikan ruang luas bagi seluruh karyawan untuk terus berinovasi menciptakan sistem yang paling efektif. Keberhasilan Didit menjadi bukti semangat lokal dari Sumbawa Barat bisa menghasilkan karya teknis yang diakui secara global,” tutup Kartika.
Melihat berbagai transformasi teknologi yang berhasil diterapkan tersebut, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) sukses meningkatkan efisiensi operasional dan perolehan mineral secara berkelanjutan melalui integrasi teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan dan laser 3D, serta inovasi yang diciptakan oleh talenta lokal yang diakui di kancah global. (KS)









