Kabupaten Dompu, Kabarsumbawa.com – Menjabat sebagai Kepala Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Adam Malik, memiliki keyakinan besar terhadap masa depan warganya.
Sektor petanian tebu menjadi salah satu langkah yang ia tempuh untuk memajukan perekonomian warganya yang notabeni berprofesi sebagai petani.
Dua tahun terakhir, desa yang berada di kaki kawasan Gunung Tambora itu perlahan berubah. Dari desa yang sebelumnya bertumpu pada jagung, kini tebu mulai menjadi harapan baru bagi masyarakat setempat.
Menurut Adam Malik, perubahan itu sangat luar biasa. Bukan sekedar angka produksi, ia melihat langsung bagaimana hasil perkebunan tebu mulai mengubah wajah desanya. Anak-anak petani kini banyak yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Rumah-rumah permanen mulai berdiri. Aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak.
“Sekarang rumah batu, rumah baru sudah banyak. Itu efek dari tebu,” ujarnya.
Di Doropeti, luas lahan tebu kini mencapai sekitar 1.200 hektare. Sementara lahan jagung masih berada di kisaran 1.300 hektare. Namun dalam dua tahun terakhir, minat warga terhadap tebu terus meningkat. Salah satu alasannya sederhana: biaya tanam lebih hemat dan harga jual dinilai lebih stabil dibanding jagung.
“Kalau tebu ini hasilnya lebih standar. Harga juga sudah jelas, tidak turun naik,” tuturnya.
Stabilitas itu membuat semakin banyak petani baru bermunculan. Adam Malik melihat sendiri bagaimana warga mulai berani membuka lahan dan mencoba peruntungan di sektor perkebunan tebu. Apalagi, kata dia, perusahaan memberikan dukungan berupa bibit gratis dan bonus produksi kepada petani.
Pada musim panen sebelumnya, petani mendapat bonus Rp 50 ribu per ton dari perusahaan. Nilai itu memang tidak terlalu besar, namun cukup menjadi penyemangat bagi masyarakat.
“Karena hasil panennya bagus, masyarakat diberikan bonus. Itu yang membuat petani makin semangat,” katanya.
Di balik perkembangan itu, peran kepala desa menjadi cukup penting. Adam Malik tidak hanya mengurus administrasi desa, tetapi juga aktif menjembatani kebutuhan petani dengan perusahaan maupun pemerintah.
Salah satu persoalan utama yang sering disuarakan petani adalah ketersediaan pupuk dan alat pertanian. Selama ini, petani masih berebut alat bajak atau traktor karena jumlahnya sangat terbatas.
“Yang masih sulit itu alat pertanian. Petani masih rebutan jonder,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas pertanian dapat memberikan bantuan alat pertanian untuk mendukung perkembangan sektor perkebunan di wilayahnya. Selain itu, ia juga berharap ada dukungan obat pembasmi rumput dari pihak perusahaan agar produktivitas petani tetap terjaga.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi Doropeti justru datang dari ancaman kebakaran lahan. Sebagian masyarakat masih membuka lahan dengan cara dibakar. Kondisi itu cukup rawan karena wilayah Doropeti berada dekat kawasan Tambora.
Adam Malik mengaku terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. Selain berisiko merusak perkebunan, kebakaran juga bisa mengancam kawasan hutan di sekitar Tambora.
“Kita terus sosialisasikan supaya masyarakat tidak membakar lahan,” katanya.
Bagi Adam Malik, masa depan tebu di Doropeti masih sangat menjanjikan. Ia melihat antusiasme warga terus tumbuh. Bahkan, sebagian masyarakat mulai memiliki cita-cita yang sebelumnya terasa jauh, seperti menunaikan ibadah umrah dari hasil berkebun tebu.
“Insya Allah beberapa tahun ke depan banyak yang bisa umrah dari hasil tebu,” ucapnya optimistis.
Di tengah berbagai keterbatasan, Doropeti perlahan sedang membangun harapan baru dari batang-batang tebu yang tumbuh di ladang mereka. Dan di balik geliat itu, ada peran kepala desa yang terus menjaga semangat petani agar tetap percaya bahwa pertanian bisa mengubah masa depan desa.
Selain Desa Doropeti, geliat perkebunan tebu juga berkembang di sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat seperti Desa Beringin Jaya, Calabai, Nangamiro, Soritatanga, hingga Desa Tambora. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan di lereng Tambora itu mulai dikenal sebagai salah satu sentra baru perkebunan tebu di Kabupaten Dompu. (KS)









