Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Forum Disabilitas Kabupaten Sumbawa memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun 2021. Kegiatan dilaksanakan di halaman Kantor Bupati, Jumat (03/12/2021) pagi.
“Alhamdulillah kami bersyukur untuk kegiatan hari ini luar biasa. Ini baru pertama kami langsung yang menyelenggarakan, kemungkinan besar di NTB pertama kali teman-teman disabilitas sendiri yang menyelenggaran untuk Hari Disabilitas Internasional ini,” kata Baiq khadijah, Koordinator Disabilaitas Kabupaten Sumbawa, kepada wartawan.
Dijelaskan, peringatan HDI Tahun 2021 ini, didukung oleh Yayasan Plan Internasional. Plan International adalah sebuah organisasi pembangunan dan kemanusiaan independen yang berkarya di 71 negara di seluruh dunia, yang meliputi Afrika, Amerika dan Asia untuk memajukan hak anak dan kesetaraan bagi perempuan.
Kegiatan dibukan oleh Wakil Bupati Sumbawa Dewi Noviany, S.Pd., M.Pd., diikuti oleh sekitar 100 lebih anggota disabilitas. Kegiatan dilaksanakan menerapkan protokol kesehatan.
Diterangkan, peringatan HDI Tahun ini diisi dengan beberapa kegiatan. Diantaranya, jalan sehat, donor darah, pijat gratis, dorprize khusus disabilitas dan Belajar Bahasa Isyarat (Basindo). Selain itu, juga digelar tak show bersama Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sumbawa. Selanjutnya, acara puncak pada tanggal 7 Desember, diisi dengan diskusi bersama Pemerintah Daerah.
“Kegiatan bukan hari ini saja, ada juga kegiatan puncaknya tanggal 7 nanti ada diskusi dengan Pemda, dan nanti malam negadakan talk show dengan wakil bupati dan ketua DPRD. Untuk tahun depan kita akan laksanakan lebih dari ini,” ungkapnya
Baiq Khadijah yang juga Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Sumbawa ini, ngungkapkan, secara umum Pemeritah telah membuka mata dan memberi ruang kepada penyendang disabilitas. Hal ini terlihat dari beberapa pelayanan publik ramah disabilitas, meski belum maksimal.
Melalui peringtan HDI ini, ia berharap kaum disabilitas dapat diterima dengan baik dan tidak dipandang sebelah mata di tengah-tengah masyarakat. “Sebenarnya satu kata-kata kami, kami tidak ingin dikasihani tapi beri kami kesempatan untuk membuktikan bahwa kami bisa. Kami ingin merubah stigma masyarakat tentang kami bahwa jangan dipandang sebelah mata, kami juga mampu untuk menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa ada bantuan dari orang lain,” pungkasnya. (KS/aly)






