Oleh : Jun Latif
Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Kamis 26 Februari 2026
Langit di luar mungkin masih gelap, namun pikiran sudah dipenuhi deadline laporan, email yang menumpuk, dan ekspektasi yang tak ada habisnya. Tekanan mental di tempat kerja begitu tinggi, menguras energi hingga tetes terakhir. Namun, pulang ke rumah tak lagi terasa seperti surga, melainkan perpindahan medan perang. Obrolan beralih dari presentasi kantor ke tagihan bulanan atau pertengkaran kecil yang tak kunjung usai. Dalam kelelahan fisik dan mental yang mendalam itulah, celah berbahaya mulai terbuka. Sebuah lubang hitam yang siap menelan habis komitmen, ketika otak, tubuh, dan jiwa sama-sama lelah mencari kenyamanan yang hilang.
Di sinilah letak akar perselingkuhan: sebuah pergulatan sengit di dalam otak kita. Secara neurosains, ini adalah pertarungan antara Sistem Limbik yang haus dopamin dan kesenangan instan, melawan Prefrontal Cortex—sang polisi moral yang seharusnya menjaga gerbang kesetiaan. Konflik biologis ini memuncak ketika tekanan mental di kantor memicu ego depletion atau kelelahan mental. Dalam kondisi rentan itu, kedekatan profesional dengan rekan kerja yang suportif bisa memicu lonjakan atraksi sesaat yang melumpuhkan logika kognitif. Kita tidak sedang kehilangan cinta, kita hanya sedang kehilangan “rem” karena otak terlalu lelah untuk berpikir panjang.
Dinamika antara dunia kerja dan kehidupan domestik menciptakan pola kausalitas unik: perselingkuhan biasanya bermula ketika kemesraan di rumah tangga mulai tersandera oleh rutinitas. Ketika hubungan suami-istri berubah menjadi kemitraan fungsional belaka—hanya membahas logistik anak atau daftar belanjaan—kadar hormon Oksitosin atau “lem emosional” akan menurun drastis. Kondisi hampa ini menciptakan “lapar afeksi” yang membuat pertahanan diri seseorang menjadi sangat rapuh. Saat itulah kemesraan yang seharusnya menjadi hak pasangan sah justru tersandera dan berpindah tangan kepada sosok lain yang dianggap lebih mampu memberikan validasi emosional di tengah gersangnya hati.
Dalam kajian akademik, ketahanan sebuah komitmen bersandar pada sinkronisasi antara Cinta, Kesetiaan, dan Kemesraan yang harus dirawat sebagai satu kesatuan utuh. Cinta sering kali dianggap sebagai bahan bakar yang fluktuatif, namun tanpa adanya kemesraan sebagai sistem perawatan harian melalui sentuhan fisik dan kedekatan batin, hubungan akan terasa mekanis. Kemesraan inilah yang berfungsi sebagai perisai biologis; semakin tinggi kadar oksitosin yang diproduksi di dalam rumah, semakin rendah sensitivitas otak terhadap godaan dopamin dari luar. Kesetiaan bukanlah sebuah kondisi otomatis, melainkan sebuah kemenangan kognitif yang harus diputuskan ulang setiap hari, terutama saat “sandera” kemesraan di rumah mulai terasa berat.
Meninggikan kadar kemesraan pada akhirnya adalah strategi kognitif paling cerdas untuk mengunci kesetiaan tanpa paksaan. Secara biologis, ketika kemesraan fisik dan emosional terus dipupuk, otak akan berada dalam kondisi “kenyang” secara hormonal, sehingga daya pikat dari distraksi eksternal kehilangan kekuatannya. Kesetiaan tidak lagi menjadi beban moral yang berat untuk dipikul, melainkan sebuah respons alami dari jiwa yang merasa terpenuhi. Dengan menjadikan rumah sebagai pusat gravitasi kemesraan, kita sebenarnya sedang melatih Prefrontal Cortex untuk melihat bahwa tidak ada reward di luar sana yang lebih berharga daripada kedalaman koneksi yang sudah kita miliki. Pada titik inilah, kesetiaan bukan lagi sekadar janji di atas kertas, melainkan sebuah ekosistem kebahagiaan yang mustahil untuk ditinggalkan.
Sebagai kesimpulan, mari kita lakukan Neuro-Refresh: selingkuh terjadi ketika Dopamin (kesenangan baru) bertemu dengan Prefrontal Cortex (logika) yang sedang lelah, di saat Oksitosin (kemesraan di rumah) sudah mengering. Menghidupkan kembali ritual kemesraan yang sempat tersandera bukan sekadar tindakan romantis, melainkan langkah strategis untuk memperkuat struktur otak dalam menjaga mandat kesetiaan. Dengan memahami anatomi ini, kita tersadar bahwa kepuasan sesaat dari sebuah atraksi baru tidak akan pernah sebanding dengan kedalaman kasih sayang dan ketenangan jiwa yang hanya bisa didapatkan melalui komitmen jangka panjang yang terjaga kemesraannya.
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA, SEMOGA KITA SEMUA DALAM KEADAAN SEHAT.















