Politik & Pemerintahan

Menenun Indonesia dalam Bingkai Adat Barenti Ko Sara’ Mahakarya dari Taman Toleransi SMPN 2 Labuhan Badas

Avatar photo
×

Menenun Indonesia dalam Bingkai Adat Barenti Ko Sara’ Mahakarya dari Taman Toleransi SMPN 2 Labuhan Badas

Sebarkan artikel ini
Junaidi, S,Pd.,M.Pd

Mengajak Semua Elemen Untuk Berkolaborasi

Oleh : Junaidi, S,Pd.,M.Pd (Kabid Pembinaan SMP Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa)

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com  – Di bawah langit cerah Labuhan Badas, sebuah harmoni yang syahdu tercipta setiap harinya. SMPN 2 Labuhan Badas kini bukan sekadar gedung tempat transfer ilmu, melainkan sebuah “Taman Toleransi” di mana lima kelopak etnis—Samawa, Bali, Sasak, Jawa, dan Timor—tumbuh mekar dalam satu petak persemaian yang sama. Keberhasilan ini berdiri kokoh di atas fondasi nilai Islam yang inklusif: Adat Barenti Ko Sara’, Sara’ Barenti Kitabullah. Di sekolah ini, ketaatan pada syariat justru menjadi jalan untuk menghormati kemanusiaan setinggi-tingginya, sebuah praktik nyata dari mandat “Sekolah Toleransi” yang didorong oleh Kemdikbudristek.

Keberagaman di Labuhan Badas berfusi sempurna dengan trilogi kearifan lokal: Saling Beri, Saling Pedi, dan Saling Satingi. Semangat ini kini semakin dikuatkan oleh program “Sumbawa Bertoleransi dalam Karya” sebuah tawaran konsep memadukan seni dan budaya sebagai lem perekat toleransi. Namun, di balik semua itu, kunci utama dari stabilitas harmoni ini terletak pada sebuah kesadaran baru yang mendalam bahwa kita semua adalah pemilik. Tidak ada lagi dikotomi karena di atas Tana Samawa, setiap individu dari berbagai etnis memiliki hak dan tanggung jawab yang sama untuk merawat kedamaian.

Dalam filosofi kepemilikan kolektif ini, peran tokoh adat dan tokoh masyarakat menjadi sangat vital sebagai pemersatu. Mereka adalah pemegang kunci kearifan yang membuka pintu bagi semua etnis untuk merasa memiliki tanah ini sebagai rumah bersama. Ketika tokoh adat berdiri sejajar dengan tokoh masyarakat lainnya, mereka mengirimkan pesan kuat bahwa harmoni adalah aset bersama yang harus dijaga dengan rasa kepemilikan yang setara. Inilah pembongkar eksklusivitas yang paling hakiki: saat semua orang merasa memiliki, semua orang akan menjaga.

Bukti nyata dari rasa memiliki ini adalah lahirnya Tari Nusantara, sebuah mahakarya spektakuler hasil binaan mandiri SMPN 2 Labuhan Badas. Tari ini secara jenius menggabungkan elemen estetika dari tiga etnis utama: Sumbawa, Bali, dan Timor. Penonton akan menyaksikan betapa lincahnya gerak mata khas Bali bersenyawa dengan energi hentakan kaki Timor, lalu diikat oleh kelembutan gestur Samawa yang santun. Tari Nusantara adalah pesan tanpa kata bahwa di bawah naungan falsafah lokal yang terbuka, semua identitas melebur menjadi satu kekuatan kreatif yang luar biasa. Ia adalah karya kita bersama, milik kita semua.

Namun, praktik baik ini memerlukan kerangka intelektual agar tidak lekang oleh waktu. Di sinilah peran akademisi menjadi krusial untuk meramu pola pembinaan ini menjadi sebuah konsep pendidikan inklusif yang sistematis. Para pemikir dipanggil untuk membedah bagaimana nilai pembauran dapat berfusi dengan karakter khas masyarakat Samawa menjadi naskah akademik yang mampu direplikasi secara global. Akademisi bertugas merangkai data lapangan menjadi ilmu yang abadi, memastikan bahwa standar nasional seperti Kebinekaan Global, Inklusivitas, dan Dialog Antarkepercayaan benar-benar mendarat dalam napas kehidupan harian siswa.

Inklusivitas ini pun telah menyentuh urat nadi harian melalui Gerakan SERBU (Seribu untuk Semua) sebagai ekonomi empati dan IMTAQ Simfoni sebagai ritual doa serentak lintas agama. Semuanya dikelola oleh Kepanitiaan Lintas Etnis yang memastikan setiap keputusan sekolah lahir dari musyawarah bersama. Melalui program pembinaan enam bulan dan mahakarya Tari Nusantara, sekolah ini sedang mencetak generasi Indonesia 2045 yang memiliki kecerdasan budaya mumpuni.

Artikel ini adalah sebuah manifesto sekaligus ajakan terbuka. Kepada para tokoh adat dan masyarakat: teruslah menjadi pengikat rasa memiliki bagi semua. Kepada para akademisi: ramulah praktik ini menjadi panduan bagi dunia. Di pinggiran Sumbawa, masa depan Indonesia sedang ditenun. Lewat setiap denting koin SERBU dan langkah Tari Nusantara, kita membuktikan bahwa harmoni adalah karya kolektif. Karena pada akhirnya, kita semua adalah pemilik masa depan ini. Mereka adalah Indonesia—kini, dan masa depan.

LEMA MO TU BAREMA JATU SAKOLA TA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *