Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Kesehatan (Dikes) saat ini tengah intens menangani persoalan kesehatan jiwa khususnya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dikes Sumbawa dr. Abadi Abdullah, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025 pihaknya telah melakukan skrining terhadap ratusan ribu orang mulai dari anak sekolah, Dewasa, Lansia, hingga ibu hamil.
Hasilnya pun cukup mencengangkan yakni 1.137 orang masuk dalam kategori Orang Dengan Ganguan Jiwa Berat (ODGJB), 1.539 ODGJ, dan 160 orang mengalami depresi. Bahkan, jumlah ODGJB Kabupaten Sumbawa menempati urutan tertinggi kedua jumlah ODGJB dan kasus pasung terbanyak di NTB.
“Kita jumlah ODGJB terbanyak ke dua setelah Lombok Timur, dan kasus pasung tertinggi di NTB dengan 9 kasus,” ungkapnya didampingi Ketua Tim Kerja Kesehatan Jiwa, NAPZA, Disabilitas, Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, serta Kelompok Rentan, Ulva Nalaraya, S.Tr.Keb., Bdn.
Menurut dr. Abadi, selama penanganan ODGJ, pihaknya menemui cukup banyak kendala di lapangan. Mulai dari minimnya fasilitas kesehatan, kurangnya perhatian masyarakat khususnya keluarga pasien, hingga pasien tanpa identitas.
“jadi mereka ini ada di masyarakat, di mana tidak semua orang dengan gangguan jiwa ini keluarganya itu peduli. Kemudian, kita di Kabupaten Sumbawa ini kadang-kadang juga ada ODGJ yang kita lihat keluarganya ini susah sekali kita cari, bahkan tidak ditemukan keluarga. Sehingga, kita perlu adanya fasilitas khusus untuk mereka, salah satunya Shelter ODGJ,” jelasnya.
Terhadap fasilitas tersebut lanjut Abadi, pihaknya telah mengusulkan kepada bupati dan telah disetujui untuk anggaran tahun 2026 ini.
“Ini yang sebenarnya sudah harus ada. Kita sudah coba kemarin, sudah disetujui di tahun 2026,” paparnya.
Rumah singgah ODGJ ini sambungnya, berfungsi untuk menampung pasien ODGJ selama penanganan. Mulai dari makan hingga obat-obatan akan diberikan secara gratis. Mereka juga akan didampingi oleh petugas mulai dari tim kesehatan hingga keamanan.
“shelter ODGJ ini bukan untuk mendiamkan mereka selamanya di situ. Artinya rumah singgah, ketika dia ditemukan, kita mau mencari ini siapa keluarganya, mereka tidak perlu terombang-ambing dulu. Nanti semua akan ditanggung secara gratis mulai dari makan sampai obatnya,” tukasnya.
Ia berharap, shelter ODGJ ini segera terealisasi. Sehingga, penanganan terhadap ODGJ di Kabupaten Sumbawa bisa lebih maksimal. (KS/Gita)







