Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Lahan seluas 5 hektar di Dusun Sampar Lok, Desa Emang Lestari, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, menjadi lokasi Demplot Perhutanan Sosial menggunakan pendekatan Agroforestry yang dilaksanakan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bekerjasama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Brang Lamar – di bawah koordinasi Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Brang Beh.
Lokasi tersebut akan ditanami sedikitnya 500 bibit pohon produktif seperti mangga, alpukat dan kemiri sebagai upaya pelestarian hutan dan penyangga ekonomi masyarakat sekaligus menjaga sumber mata air bagi penghidupan masyarakat setempat.
Inisiatif Berkelanjutan dalam Program PPM “Demplot Agroforestry”
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menjelaskan bahwa, AMMAN senantiasa melakukan berbagai inisiatif berkelanjutan yang terimplementasikan dalam Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Inisiatif ini mencakup pengembangan kapasitas masyarakat, agar dapat memaksimalkan kesejahteraan dan potensi sumber daya manusia dan wilayah, khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Sumbawa.
PPM AMMAN dijalankan melalui tiga pilar, yakni Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pemberdayaan Ekonomi, dan Pariwisata Berkelanjutan. Salah satu program unggulan Program PERTAMAS (Perhutanan Sosial dan Transformasi Penghidupan Masyarakat) merupakan inisiatif strategis AMMAN sebagai bagian Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Berkelanjutan.
Program ini secara spesifik berfokus pada pilar Pemberdayaan Ekonomi, yang sekaligus untuk menjaga Lingkungan, bertujuan menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan komunitas.
“Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi keberlanjutan ekosistem dan penghidupan masyarakat, terutama di wilayah penyangga kawasan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) AMMAN,” jelas Aji Suryanto.
Lokasi pendampingan yang berada di area perhutanan sosial sebagai zona penyangga kawasan tambang menjadikannya titik kritis sosio-ekologis. Degradasi hutan di wilayah ini dapat berdampak langsung pada stabilitas ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.
“PERTAMAS hadir sebagai model percontohan yang memadukan tiga elemen kunci yakni Kelestarian Hutan, Penguatan Kelembagaan Sosial, dan Pengembangan Usaha Berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang harapannya dapat terhubung dengan pasar berkelanjutan,” paparnya.
Lebih lanjut dijelaskan, saat ini, program PERTAMAS di lokasi KTH Brang Lamar – KPH Brang Beh Kecamatan Lunyuk, berada pada tahap awal yang berfokus pada penyiapan pondasi kelembagaan dan teknis. Ini merupakan awal dari sebuah perjalanan program jangka panjang yang diharapkan dapat menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Elaborasi Dampak Program
Aji Suryanto menjelaskan, dampak utama yang diharapkan dari sisi Ekologi adalah terjaganya kelestarian kawasan hutan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan partisipatif. Program ini secara langsung melibatkan masyarakat melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam kegiatan konservasi.
Langkah kunci yang dilakukan pada tahap awal meliputi integrasi peta partisipatif ke dalam dokumen rencana zonasi kawasan, pengembangan Demplot Agroforestry sebagai model pengelolaan terpadu, hingga pengukuran Baseline Cadangan Karbon dan penyusunan sistem mitigasi kebakaran.
Keseluruhan upaya ini bertujuan mitigasi degradasi hutan, pencegahan erosi, dan perlindungan sumber daya air di zona penyangga.
Kemudian dampak selanjutnya, pada Penguatan Ekonomi yang diwujudkan melalui peningkatan pendapatan masyarakat dari usaha berbasis hutan yang memiliki akses pasar berkelanjutan. Fokus program adalah pada diversifikasi dan nilai tambah komoditas HHBK seperti minyak kayu putih, madu, atau kopi.
Aktivitas kuncinya mencakup fasilitasi penyusunan Rencana Usaha Perhutanan Sosial (RUPS) yang disahkan, pelatihan pengolahan, standarisasi, dan fasilitasi sertifikasi produk HHBK.
Selanjutnya, penguatan kelembagaan yang inklusif dan kolaboratif. Aspek Sosial difokuskan pada terbentuknya kelembagaan sosial yang kuat, inklusif, dan mampu mengelola konflik serta mendorong kolaborasi. Kunci keberlanjutan program terletak pada penguatan tata kelola, yang dilakukan melalui pembentukan Forum Lintas Aktor dengan pertemuan rutin untuk menyelesaikan isu strategis.
Selain itu, KTH diberikan pelatihan peningkatan kapasitas kelembagaan dan manajemen konflik, dan aspek legalitas diperkuat melalui penyusunan dan pengesahan Peraturan Desa (Perdes) tentang tata kelola kawasan hutan.
“Pendekatan agroforestri menjadi strategi karena tidak hanya menumbuhkan pohon yang dapat mengembalikan keseimbangan ekologis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dalam jangka pendek bagi masyarakat. Dengan memperhatikan jarak tanam, maka KTH dapat menanam tanaman semusim di sela-sela, agar masyarakat dapat memiliki penghidupan sehari-hari sambil menjaga pohon produktif yang di tanam siap panen. Tujuan utama dari program ini adalah bagaimana menjadikan hutan lestari ekonomi bersemi. diharapkan dengan program ini, hutan yang ada tetap lestari tapi juga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat,” tandasnya.
KTH dan KPH Aktor Pendukung Kesuksesan Program
KTH merupakan mitra sekaligus penerima manfaat utama sebagai pelaku konservasi dan ekonomi di tingkat tapak. Peran sentral KTH meliputi pengelolaan Demplot Agroforestry, implementasi praktik kehutanan lestari, dan pelaksanaan Rencana Usaha Perhutanan Sosial (RUPS).
Keberhasilan program sangat bergantung pada kapasitas kelembagaan, partisipasi aktif anggota, dan kepatuhan KTH terhadap tata kelola kawasan hutan yang telah disepakati bersama. KTH adalah mitra AMMAN dan KPH dalam memastikan fungsi ekologis hutan tetap berjalan sambil meningkatkan pendapatan mereka dari HHBK.
Ketua KTH Brang Lamar, Desa Emang Lestari, Kecamatan Lunyuk, Sumardi menyampaikan kesiapan menjaga agar program ini bisa berhasil. Namun demikian, ia berharap ini tidak hanya pada tahapan produksi saja, tetapi perlu adanya pasar untuk bagaimana menunjang hasil dari program ini agar bisa memberikan dampak pada perekonomian masyarakat setempat.
“Kami akan siap untuk bagaimana menjaga ini supaya bisa berhasil. Kami berharap bisa kita pasarkan hasilnya,” ungkapnya.
Kemudian lanjut pria yang akrab disapa Somes ini, ia berharap agar selama pelaksanaan program ini dapat diberikan program pendampingan, seperti ternak bebek maupun budidaya ikan di lokasi.
“Mungkin program lainnya bersama ini, misalnya bebek atau budidaya ikan di lokasi demplot. Sehingga kami sambil menjaga tanaman ini, kami ada aktivitas lainnya di lokasi sebagai penunjang penghasilan kami,” harapnya.
Sementara itu, KPH berperan sebagai perwakilan pemerintah di masyarakat adalah memberikan dukungan administratif, teknis, dan operasional. Ini mencakup fasilitasi dalam penyusunan dan pengesahan dokumen rencana kehutanan, serta pembinaan teknis secara langsung kepada KTH.
KPH sebagai mitra kolaborasi utama AMMAN dan KONSEPSI (mitra pelaksana program). KPH akan memastikan program PERTAMAS selaras dengan kebijakan pengelolaan hutan di tingkat daerah dan memiliki legitimasi hukum yang kuat.
Kepala KPH Brang Beh, Dedi Purwanto menyebutkan bahwa, sebelumnya pihaknya telah mengajukan dua KTH dalam program ini. Berdasarkan hasil kajian dari Konsepsi, KTH Brang Lamar dipilih untuk di dorong terlebih dahulu dengan alasan menjadi daerah sumber mata air masyarakat, akses relatif mudah dijangkau dan KTH siap berkomitmen.
Dikatakan, penanaman secara serentak akan dilakukan pada saat memasuki musim penghujan November mendatang. Hal ini dilakukan agar menghindari penguapan air sehingga potensi tumbuhnya sangat tinggi.
“untuk penanaman nanti serentak pada musim penghujan. Alasanya untuk mengurangi penguapan air, sehingga potensi pertumbuhannya sangat tinggi,” tukasnya.
Kepala Desa Emang Lestari, Deni Murdani mengucapkan terima kasih kepada PT. AMMAN yang telah menetapkan Wilayah Brang Lamar sebagai lokasi lokasi program PERTAMAS. Menurutnya, program ini sangat baik, mengingat kondisi hutan khususnya di Kecamatan Lunyuk sudah tidak baik-baik saja.
“Dengan apa yang menjadi kegiatan ini saya sangat bersyukur, karena di titik ini merupakan sumber mata air yang sangat berfungsi bagi kelangsungan hidup masyarakat. Bagaimana air ini berkelanjutan, tentu kita perlu menyiapkan penyangga intinya, salah satunya dengan penanaman pohon seperti ini. Bagaimana menjaga mata air dan mengubah hutan gundul menjadi asri,” kata kades.
Pada kesempatan ini, ia mengajak semua pihaknya khususnya masyarakat yang tergabung di dalam KTH Brang Lamar untuk benar-benar melaksanakan program ini dengan baik, agar apa yang telah dimulai hari ini dapat terus berkelanjutan.
“Harapan kami, bagaimana ini bisa mengawal ini agar bibit yang ditanam 500 itu bisa tumbuh dengan maksimal. Saya mengajak semua itu ikut bersama-sama menjaga program ini,” pungkasnya.
Sebagai informasi, hingga saat ini, PERTAMAS telah melibatkan empat KTH aktif, Sagena Indah (KPH Brang Rea), Batu Akik (KPH Sejorong Mataiyang), Sampar Baru (KPH Sejorong Mataiyang), dan Brang Lamar (KPH Brang Beh), yang menjadi garda depan dalam pengelolaan kegiatan konservasi dan ekonomi hutan. (KS)






