Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, menjadi lokasi pelaksanaan Kajian Risiko Bencana (KRB) yang berlangsung selama empat hari berturut-turut, mulai Selasa hingga Jum’at, September 2025. Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Desa Penyaring, tokoh masyarakat, serta mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Universitas Samawa (UNSA) Angkatan 27.
Kegiatan KRB bertujuan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana yang rawan terjadi di Desa Penyaring, seperti banjir rob, abrasi pantai, dan kekeringan.
Rangkaian Kegiatan
Hari pertama kegiatan diisi dengan sosialisasi dan pengenalan konsep dasar kebencanaan. Kepala Desa Penyaring dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat dan pemerintah desa dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Hari kedua, peserta diajak melakukan identifikasi ancaman dan pemetaan partisipatif. Mahasiswa KKL UNSA Angkatan 27 turut berperan dalam mendampingi masyarakat menggali pengalaman mereka terkait bencana, sekaligus membantu menyusun peta wilayah rawan bencana.
Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada analisis kerentanan dan kapasitas masyarakat. Diskusi kelompok dilakukan untuk menilai sejauh mana kesiapan warga dalam menghadapi bencana, dilanjutkan dengan simulasi sederhana mengenai langkah tanggap darurat. Mahasiswa KKL UNSA ikut memfasilitasi jalannya diskusi serta memberi tambahan perspektif akademik tentang strategi mitigasi bencana.
Hari terakhir ditutup dengan penyusunan Rencana Aksi Desa, yang memuat beberapa strategi mitigasi, di antaranya penanaman mangrove untuk menekan abrasi, pengelolaan sumber air bersih untuk mengantisipasi kekeringan, serta pembentukan Tim Siaga Bencana Desa Penyaring.
Kolaborasi Membangun Desa Tangguh
Kepala Desa Penyaring menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya KRB ini. “Dengan adanya kegiatan KRB, masyarakat lebih memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Terima kasih kepada mahasiswa UNSA yang sudah ikut berkontribusi,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa KKL UNSA Angkatan 27 menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga. “Kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga bisa langsung terlibat membantu masyarakat menyusun langkah mitigasi bencana. Semoga hasil KRB ini bisa benar-benar dijalankan untuk Desa Penyaring,” ujarnya.
Hasil dan Harapan
Hasil akhir dari KRB Desa Penyaring berupa dokumen rencana aksi dan peta risiko bencana yang nantinya akan menjadi acuan pemerintah desa dalam menyusun program pembangunan berbasis pengurangan risiko bencana.
Dengan adanya KRB selama empat hari ini, Desa Penyaring diharapkan semakin siap menghadapi potensi bencana serta menjadi contoh nyata implementasi Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Sumbawa. (KS)







